Popular Posts
-
Suatu hal yang menarik ketika kita mengkaji, dengan dibentuknya beberapa komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantas...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Karangan ini saya buat berdasarkan apa yang saya ketahui dan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan Fakultas Hukum Universitas ...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Apakah pelanggaran HAM berat diselesaikan oleh KKR ataukah pengadilan HAM? Apakah perkaranya tidak dapat lagi diajukan kepada penga...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 13 Agustus 2013
Terkadang
kita mengeluarkan kata seperti : setan atau iblis. Apakah setan dan iblis itu
berbeda atau sama? Dimana letak perbedaannya? Lantas, bagaimana pandangan
Al-Qur’an mengenai setan dan iblis? Siapa-siapa saja yang termasuk golongan
setan di dunia ini? Berbicara masalah
waktu, apakah setan dipenjara/dikurung selama bulan puasa?
Setan
dan iblis mempunyai arti yang berbeda. Menurut pandangan Al-Qur’an , itu
diberlakukan kepada kekuatan-kekuatan yang menciptakan penyimpangan, kejahatan
dan penyelewengan. Berdasarkan ini, kita temukan dalam Al Qur’an yaitu “
setan-setan diantara golongan manusia dan jin” dalam artian bahwa
manusia-manusia ada yang mengenakan pakaian, berbuat dan berjalan sesuai dengan
dengan sifat setan itu sendiri, serta setan-setan yang dari jenis jin. Dan
setan-setan terkadang berada di dalam diri manusia (yaitu sifat egoisme, hasrat
rendah, ketamakan, kemarahan, kealpaan dan sebagainya. Dan kadang pula berada
di luar manusia (aksiden) misalnya seperti
yang menduduki sebagai jabatan, pemimpin agama(ulama), penguasa,
penjahat keras kepala, busuk, kejadian yang merangsang birahi dan lain-lain.
Dan pada saat bulan ramadhan mungkin ada makhluk berwujud manusia tapi
perlakuan atau tindakannya seperti setan.
Sekarang,
seandainya kita tidak memanjakan setan dalam diri kita sebagai manusia biasa,
maka setan-setan di luar tidak akan bisa mempengaruhi diri kita. Karena alasan
tersebut tidak bisa kita mempersalahkan penyimpangan kita sendiri pada kondisi
–kondisi sosial atau mereka yang menggiring kita pada kealpaan. Di dalam
al-qur’an sendiri disebutkan ada pertengkaran antara kaum mustakbirin dan kaum
tertindas pada hari keputusan. Kaum tertindas menuduh golongan kaum mustakbirin
telah menyesatkan mereka tetapi pihak kedua membantah dan menyangga bahwa
mereka sendiri semestinya tidak mendengarkan mereka. Mereka berdua sama-sama mengatakan kebenaran
dan pada waktu yang sama, kedua-duanya dijatuhi hukuman.
Sedangkan
jin berasal dari jana yaitu terhalang atau tak terlihat. Sedangkan Ifrit
merupakan salah satu jenis dari golongan jin yang memiliki kekuatan besar serta
dia memiliki kemampuan untuk membunuh manusia. Dalam tafsir surat An-Nas,
Qatadah berkata : “Sesungguhnya dari jin dan manusia terdapat setan-setan”.
Dalam surah Al-An’am (112) dikatakan “”Dan demikian lah Aku jadikan untuk
setiap nabi musuh dari setan-setan manusia dan jin”. Dalam buku “Hayatul
Hayawan al-Kubra” karangan Dumairi : semua jin adalah keturunan Iblis. Namun
dikatakan juga bahwa Jin merupakan satu rumpun, sedangkan Iblis adalah satu
dari mereka. Jin juga mempunyai keturunan,seperti dijelaskan dalam al-Qur’an
surah al-Kahf (55) “Apakah kalian akan menjadikan mereka (jin) dan keturunanya
sebagai kekasih selain Aku (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian”. Mereka
yang kafir dari kaum jin disebut setan. Semua yang durhaka dan membangkang dari
manusia, jin dan hewan disebut setan. Orang Arab menyebut ular sebagai setan.
Yang terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa setan adalah musuh
mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan
Allah. Kita dilarang menyembah atau menuruti kata setan. Dalam surah Yasin (60) dikatakan “Bukankah
Aku (Allah) telah membuat perjanjian kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak
menyembah setan, mereka adalah musuh yang paling jelas”. Demikian juga dalam
surah Fathir (6) “Sesungguhnya setan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka
musuh”. Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap
tipu daya dan rayuan setan ini.
Label:
Agama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar