Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Kategori

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Logika & Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logika & Filsafat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Juli 2014
       Pergerakan mahasiswa menjadi multitafsir terhadap yang dimaksud dengan idealisme terhadap dunia post-modernisme ini yang mendarah daging dalam jiwa idealisme mahasiswa yaitu bebas nilai terhadap kejadian yang terjadi.

       Secara universal, perlu dikatakan bahwa mahasiswa dan bukan mahasiswa adalah manusia itu sendiri, dimana mahasiswa haruslah memahami manusia secara universal melalui fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia. Menurut Murtada Muthahhari (pemikir dari Iran) bahwa fitrah manusia itu memiliki 2 fitrah yaitu fitrah menalar (akal) dan fitrah merasa (hati).

        Terkadang mahasiswa menggunakan fitrah menalar (analisis) sampai lupa dengan fitrah merasa (hati) terhadap masyarakat atau publik dan inilah disebut dengan idealisme kiri. Juga ada mahasiswa yang menggunakan fitrah merasa (hati) sampai lupa terhadap fitrah menalar (akal) terhadap penalaran masyarakat/publik yang mengakibatkan pergerakan mahasiswa menjadi luntur. Hal yang sangat cenderung mempengaruhi dunia kemahasiswaan adalah terbentuknya pemikiran yang konsumtif diakibatkan produk-produk yang memerangi alam bawah sadar masyarakat modern yang sesuai dengan bahasa Antonio Gramsci yang disebut dengan hegemoni (penyerangan alam bawah sadar). Maksudnya adalah mahasiswa cenderung memiliki penyakit untuk berpikir bagaimana kemudian dapat memiliki produk, sehingga ketika semakin banyak produk yang dimiliki mahasiswa maka mahasiswa akan semakin disibukkan untuk merawat produk yang dimiliki sehingga mengurangi waktu untuk berpikir terhadap perubahan zaman, misalnya penyelewengan kekuasaan, kezaliman terjadi di suatu daerah tertentu. Dan hal ini juga menjadi penyebab lunturnya gerakan mahasiswa sekarang ini. Akankah mahasiswa membiarkan kezaliman ini terus terjadi? sebagaimana seseorang membutuhkan payung ketika hujan terjadi, sebagaimana itu pula manusia merindukan akan adanya keadilan yang hakiki dan mahasiswa memiliki amanah untuk itu dalam artian perubahan zaman dari kezaliman menuju keadilan.

       Meminjam dari bahasa seorang pemikir yang bernama Erich Fromm bahwa penyakit manusia modern adalah manusia disibukkan untuk bagaimana kemudian untuk dapat dicintai sehingga lupa akan cara bagaimana kita dapat mencintai sesuatu. Misalnya dalam dunia keperempuanan disibukkan dengan dunia-dunia kosmetik dan laki-laki disibukkan dengan dunia style (gaya hidup yang sesuai dengan produk yang ada). Sehingga, tolak ukur pergaulan mahasiswa cenderung kepada produk apa yang kita miliki.

      Tidak ada yang salah dalam dunia modern ini dikarenakan dunia modern atau perkembangan teknologi adalah sesuatu yang pasti terjadi, tapi bagaimana kemudian mahasiswa tidak kehilangan nilai yang dipikulnya salah satunya adalah sebagai penggerak perubahan. akankah mahasiswa membiarkan kezaliman yang mendarah daging di negara ini?

      Kemudian yang menjadi permasalahan adalah pergerakan mahasiswa tidak lagi disertai dengan gerakan cinta dalam artian mahasiswa haruslah memahami nilai kemahasiswaan disertai dengan cara-cara yang modern atau sesuai dengan zaman dan perlunya mahasiswa untuk menganalisis zaman untuk menjawab pergerakan mahasiswa. Cara untuk memberi sesuatu itu melalui perkembangan zaman (budaya) dan nilai (tujuan) yang akan disampaikan dari segi kemahasiswaan itu tidak pernah berubah. Ketika mahasiswa sudah memiliki nilai apa yang akan dicapai melalui sejarah, maka diperlukan juga mengenali budaya untuk memiliki metode atau cara untuk mahasiswa menyampaikan nilai kemahasiswaan, maka pada saat itulah pergerakan cinta terjadi yaitu pergerakan yang memahami nilai kemahasiswaan dan memahami zaman yang disebut tantangan pergerakan cinta.
Rabu, 26 Maret 2014



                Sesuatu yang sesungguhnya adalah ketika sesuatu itu bertemu dengan kemusnahan kecuali Sang Pencipta Sesuatu (Maha Pencipta mengakibatkan Diri-Nya menjadi Maha Kekal). Hari-hari yang telah manusia lewati yang pada hakikatnya adalah ketika kegelapan itu suatu saat akan bertemu dengan ke-terang-an , ketika malam dan siang itu bertemu, hujan dan panas itu bertemu dalam sehari dan laki2 dan perempuan (semua diciptakan berpasang-pasangan). Adakah manusia yang sebagai ciptaan akan mengatakan bahwa bumi dan seisinya ini tidak seimbang?
                Satu hal yang sangat tidak asing lagi pada daun telinga manusia ketika mendengar suatu kalimat yang menyatakan bahwa “TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA”, yang dimana pada realitasnya mungkin manusia itu berbicara kepada diri sendiri (merenung) ataukah berinteraksi dengan manusia lainnya. Kalau asumsinya seperti yang manusia katakan tadi, maka tidak ada satupun manusia yang pernah, sekarang atau akan hidup di muka bumi ini terlahir sebagai manusia sempurna. Berarti konklusinya adalah tidak ada yang menjadi standar/tolak ukur manusia sempurna dan hanya Tuhan yang Sempurna karena Dia Maha Sempurna.
                Kekeliruan itulah yang manusia konsepsikan di dalam pikirannya sebagaimana dalam teori dialektika hegel (ide mempengaruhi materi), sehingga terjadi sebuah pergeseran paradigma terhadap diri sendiri dan sekitarnya. Ketika paradigma bergeser maka konsekuensinya adalah tingkah laku manusia pun akan bergeser dikarenakan tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada tolak ukur manusia yang sempurna yang kemudian dengan sebuah kesimpulan bahwa manusia itu hidup tidak memiliki tujuan.
1.       Akankah manusia hidup tanpa tujuan?
2.       Akankah suatu ciptaan (manusia) tidak memiliki tolak ukur?
3.       Akankah manusia itu stagnan dalam bertingkah laku/mengkritik/gosip untuk sebuah pembenaran terhadap hakikat manusia?

Manusia yang menulis pun tentu memiliki tujuan dan sebab-akibat sehingga mengapa dia menulis. Yang dimana penulis tersebut lahir dari kedua orang tua dan pasangan manusia yang pertama kali adalah Nabi Adam As dan Hawa yang sebagai ciptaan dari Sang Sebab Awal (Tuhan). Dan salah satu tujuannya adalah membagi ilmu pengetahuan karena semua Milik-Nya dan ciptaan-Nya dan dikarenakan ilmu pengetahuan mempunyai sumbangsih terhadap peradaban manusia. Kalaupun Tuhan menciptakan manusia itu tanpa tujuan berarti ada suatu hal yang gugur Dari-Nya bahwa Dia bukan segalanya, Dia tidak bijaksana. Apakah Tuhan masih disebut Tuhan ketika dia tidak bijaksana? Tentu tidak.
Ketika manusia itu telah diciptakan memiliki tujuan dan karena Tuhan Maha Penyayang maka sebagai konsekuensi logis adalah Tuhan menunjuk/memilih seorang manusia sebagai tolak ukur terhadap manusia lainnya (keturunan) yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena dia tidak pernah salah maka dia disebut sebagai manusia sempurna. Kalaupun dia pernah salah berarti Tuhan telah menunjuk/memilih manusia yang salah sebagai contoh. Akankah Tuhan melakukan penunjukan yang salah? Jawabannya; mustahil. Namun, apakah kemudian kita tidak dapat mencontohi Nabi Muhammad? Mungkin jawabannya “Nabi dan manusia itu berbeda”. Apakah Nabi itu bukan manusia? Dan ketika dia sebagai manusia sempurna akankah manusia yang lainnya tidak akan sempurna? Nabi secara fisik disebut sebagai manusia, tapi secara pengetahuan dan jiwa tentu berbeda, tetapi bukan berarti manusia lainnya tidak dapat mengikutinya. Karena Nabi Muhammad hadir untuk menjawab tantangan zaman. Namun, apakah dengan hadirnya Nabi Muhammad sebagai teladan, manusia yang lainnya tidak dapat melakukan perubahan dalam diri yang akan mempengaruhi di sekitarnya? Secara logis jawabannya adalah potensial.
Frasa potensial tidak dapat ditafsirkan atau disamakan dengan stagnan/tidak mungkin. Pada hakikatnya berbicara potensial tentu akan mengarah kepada sesuatu yang berkembang jika dikembangkan dan menurun jika tidak dikembangkan. Jadi, manusia itu secarap otensial dapat menjadi sempurna dan juga secara potensial dapat menjadi semakin tidak sempurna berdasarkan tingkatan kesempurnaan. Dan fitrah manusia, pada hakikatnya adalah mencari kebenaran untuk menuju kesempurnaan.



            Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu seperti anak sekolahan (ABG), mahasiswa yang berlembaga dan mahasiswa yang berorganisasi.  Akankah ketiga karakter dari mahasiswa menjadi penerus bangsa? tentu saja walaupun tidak secara keseluruhan, tetapi akankah mahasiswa sadar yang secara substansial sebagai pemuda yang memiliki nalar kritis, agen perubahan dll. Suatu kenakalan berfikir ketika kita menganggap mahasiswa zaman sekarang yang tidak berorganisasi/berlembaga di ruang lingkup fakultas-kampus, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata garuda, pikiranmu setajam pisau, perabaanmu lebih peka dari para malaikat, pendengaranmu dan ratap-tangis kehidupan: pengetahuanmu tentang mahasiswa yang tidak berorganisasi/berlembaga di ruang lingkup fakultas-kampus takkan bisa kau nilai sebagaimana dosen yang memberikan nilai kepada mahasiswanya.
            Sudah berapa banyakkah yang kau berikan untuk Negaramu? sehingga menjadikan dirimu fanatik dalam suatu organisasi/lembaga kampus? Apakah dengan hadirnya Pancasila pada tanggal 1 juni 1945 dan sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 itu muncul sebagai sebuah seremonial belaka? sebagaimana waktu kita duduk di bangku sekolah yang hanya sekedar menghafal kelima sila itu? Bayangkanlah nasib bangsa Indonesia yang pernah mengalami penjajahan atau kolonialisme selama tiga abad lebih. Tiga abad lebih itu dalam ukuran rotasi matematis pertanggalan, tapi jika dalam ukuran perasaan maka satu hari penjajahan bisa terasa seperti 1 tahun, maka perasaan orang-orang Indonesia yang terjajah itu bisa lebih dari seribu abad rasanya. Setiap individu yang terjajah dimana saja dalam kehidupan modern, selalu jumlah waktu yang gelap dalam hidupnya relatif sama. Maka, seorang mahasiswa yang tidak tergolong dalam suatu komunitas/organisasi/lembaga kampus yang pada realitasnya tidak berbeda dengan mahasiswa manapun yang terjajah secara politik dalam suatu komunitas/organisasi/lembaga yang merasakan galau dan resah sehingga potensi yang dimiliki seorang mahasiswa menjadi terhambat.
            Berdaulat juga bermakna otonom yang memiliki kemandirian. Otonom berarti sempurna sebagai seorang mahasiswa yang berkuasa atas kehendaknya sendiri selama tidak merugikan kepentingan umum yang tidak ada paksaan dari luar (kreatvitas). Bahasanya adalah bahasa hati nurani, bahasa yang mandiri, bahasa yang hakiki.
            Dengan segala kerendahan, untuk hakim yang terhormat yaitu golongan mahasiswa yang melampaui batas kehendak Tuhan sebagai hakim yang Maha benar dan Maha adil. Akankah kita memberikan sebuah kesimpulan/penjustifikasian terhadap ruang gerak potensi yang ingin dikembangkannya sebagaimana mahasiswa yang terjajah secara politik?
“tidak banyak orang yang melihat yang dengan matanya sendiri dan merasakan dengan hatinya sendiri.” #AlbertEinstein.
            Jika kita yakin perubahan/potensi yang dimiliki setiap mahasiswa itu sebagai sebuah kebenaran. Maka, perubahan itu haruslah terkonstitusikan. Bukan hanya konstitusi seperti yang dideklarasikan secara tertulis, tetapi juga konstitusi yang tertulis di dalam hati mahasiswa. Konstitusi yang paling lembut itu tertulis dengan darah yang mengalir sepanjang kehidupannya sebagai ciptaan Tuhan. salam mahasiswa!



                Suatu wacana yang menarik ketika kita mengkaji filosof dan ilmuwan. Apakah filosof (ahli filsafat ilmu) dan ilmuwan itu berbeda ataukah sama? Kalaupun sama, apakah filosof dan ilmuwan mempunyai kesamaan secara keseluruhan atau sebagian? Dan kalaupun beda, dari segi apa para filosof dan ilmuwan mempunyai perbedaan? Kemudian, bagaimana para filosof mengkaji sesuatu dan para ilmuwan mengkaji sesuatu?
                Berbicara megenai filosof dan ilmuwan identik dengan memperbincangkan masalah teori. Istilah teori dalam kamus memiliki variasi yang begitu luas cakupannya. Contohnya, detektif swasta dalam televisi mempunyai suatu ‘teori’ tentang kasus pembunuhan yang belum terungkap. Seperti istilah yang digunakan detektif, teori menunjukkan dugaan, perkiraan (hipotesis). Sebagian mahasiswa yang menganggap teori sebagai lawan dengan pelajaran lain yang sifatnya praktis dan relevan. Menurut mereka yang dengan menggunakan kata-kaa klise, “itu dapat dilakukan dalam teorinya, kan tetapi dalam prakteknya tidak akan berhasil.” Dan teori pula dapat diartikan sebagai renungan atau perkiraan tentang suatu fenomena yang memusingkan kepala.
                Ernest Nangel sebagai salah seorang tokoh terkemuka yang telah mengemukakan tentang apa yang disebut dengan received view yang dikarenakan suatu alasan yag dilengkapi dengan keterbatasan satu-satunya alternatif yang lain, yang disebut dengan anggapan umum biasanya tidak tepat dan tidak konsisten sehingga pilihan untuk meyakini kesamaan di antara berbagai fenomena, perbedaan atau dalam salah satu di antara keyakinan yang saling bertentangan hanya semata dibuat-buat dan tanpa pedoman yang rasional. Maksudnya adalah suatu anggapan umum yang penekanannya hanya kepada pengalaman biasa setiap hari. Karena anggapan umum berasal dan diterapkan secara langsung kepada masalah-masalah yang sifatnya praktis, maka rentang daya gunanya tidaklah menjangkau lebih dari hal-hal yang rutin dari pengalaman setiap hari, yang dimana penekanannya cenderung menyebabkan pengetahuan kita mandeg (stagnasi) dan menjadi kaku dalam berfikir yang tidak dapat dihindari. Dan ketika hal tersebut menjadi kaku, maka pengetahuan semacam itu lalu menjadi kebiasaan dan tradisional (menjadi suatu kelaziman) sehingga untuk menghadapi problema atau situasi sosial yang sebelumnya belum pernah dihadapi menjadi rusak.
                Para filosof (ahli filsafat) di bidang ilmu, harus diingat bukanlah ilmuwan dan mereka pun tidak pernah menyatakan dirinya sebagai ahli dalam setiap bidang ilmu dengan cara yang a priori, apa yang harus dilakukan. Mereka adalah ahli filsafat yang mengkaji masalah filosofis yang berhubungan dengan perkembangan teoritis secara umum dan perkembangan teori ilmiah dari suatu disiplin ilmu secara partikulir (khusus). Untuk bidang pengetahuan tertentu ahli filsafat dapat mengorganisasi dan mensistematiskan pengetahuan dalam kerangka pengetahuan yang ada dalam teoritis dan menjelaskan prinsip ilmiah yang telah dikonfirmasi/diterima secara luas dan menelusuri perkembangan historis dari prinsip tersebut.
                Seketika Robson sebagai salah satu ahli sosiologi, merumuskan kembali kata Lakatos (seorang filsafat ilmu) bahwa sumbangan filsafat ilmu adalah “seakan mengatakan kepada para ilmuwan apa yang telah mereka lakukan dan mengpa mereka melakukannya setelah mereka melaksanakannya. Dan para filosof sendiri tanpa terpecah-pecah dalam hal nasihat apa dan penyuluhan apa yang selayaknya mereka berikan kepada kita.”
                Para ilmuwan mungkin saja telah mendeduksinya secara logis dari seperangkat aksioma dan sekarang ia memiliki suatu kebenaran baru yang sifatnya potensial atau mungkin telah mencetuskan hipotesis itu dari studi penelitian terdahulu menghasilkan sebuah hasil yang tidak terduga sebelumnya atau hasil sekilas. Penggambaran tradisional penelitian ilmiah dinamakan sebagai penghampiran hypothetico-deductivism (hipotesis-deduktivisme/umum ke khusus) yang terbagi dalam 2 macam, yakni; fase perumusan hipotesis dan fase pengujiannya. Dan para filosof mengatakan “suatu kesimpulan yang benar dari suatu argumen deduktif (umum ke khusus) harus benar jika premis-premis  yang digunakan juga benar.”
                Dengan cara itulah deduktif ditegakkan. Jika hipotesis (H) benar, maka prediksi (P) merupakan efek juga juga benar. Dan efek yang diramalkan telah teramati. Masalah dalam usaha mengkonfirmasi hipotesis secara langsung merupakan masalah formal dalam hukum logika bersyarat (jika...maka). Bentuk yang langsung, yaitu:
Hipotesis>Prediksi                           (jika H, maka P)
Prediksi                (P)                       (P = teramati/sebagai akibat)
maka Hipotesis (H)                          (H dapat diterima)
                Bentuk deduksi di atas melakukan kesalahan pada waktu menegaskan akibat (P). Yang secara logis maka tidak akan ada kesimpulan yang benar dapat ditarik. Karena alasan itulah maka prediksi itu dinyatakan dalam bentuk “nol”, yang secara khusus memprediksi tidak ada pengaruh yang berbeda. Maka, observasi berusaha mengingkari akibat nol itu (tidak ada pengaruh) sehingga demikian akan memperkuat hipotesis secara tidak langsung.
                Jadi bentuk deduktif dari eksperimen tertentu mengambil bentuk sebagai berikut. Jika hipotesis itu tidak benar (-H) maka perbedaan yang diprediksi tida akan diharapkan (-P). Observasi lalu ditujukan untuk mencari fakta untuk menolak keadaan tanpa perbedaan itu (-P), dengan cara itu dapat diingkari kesalahan hipotesis. Bentuk negatif ganda dari logika deduktif atas eksperimen menjadi:
- H  > -P                                (jika tidak –H, maka tidak –P)
-        (-P)                               (observasi menolak prediksi nol)
Maka H                                  (Hipotesis diterima secara indirect / tidak langsung)
Tujuan dari penjelasan yang diatas secara sederhana adalah untuk memperlihatkan bahwa jika hipotesis dikonfirmasikan dalam kerangka kerja hipotetiko-deduktif, sistem logika yang diterapkan adalah deduktif secara ekslusif yang dimana hipotesis itu tidak secara langsung  teramati atau dikonfirmasikan. Akan tetapi, ia lebih dianggap ada setelah usaha enyalahkan hipotesis gagal/negatif ganda. Model hipotetiko dalam pengolahan ilmu secara jelas menempatkan penekanan yang bersar terhadap justifikasi. Dan para filosof ilmu yang tradisional, agak mengabaikan problem ini secara ceroboh dengan mengemukakan tiadanya logic of discovery (logika penemuan).
Bila awan gelap yang menutupi semua itu reda, kita masih saja tinggal dalam posisi tidak lebih banyak daripada sekumpulan generalisasi dan hipotesis setengah pasti yang diperoleh dari penelitian. #para filosof
Sabtu, 07 Desember 2013


        Hidup adalah kekosongan sampai manusia menghidupi yang menjadi tugas manusia untuk memberi makna atas hidup tersebut dan makna hidup tidak lain adalah makna yang anda pilih. Meskipun gerakan eksistensialisme di Perancis hampir mencapai sukses popularitas, adalah gerakan yang berlalu begitu saja dan mencapai waktu kurang lebih dari satu abad. Dan juga eksistensialisme digambarkan sebagai anti-historis, para pendukungnya menunjukkan minat yang tidak kecil dari para pendahulu mereka.Pernyataan mengenai eksistensial muncul pertama kali ketika zaman keemasan filsafat Jerman mencapai puncak pada system dialektika-nya Hegel. Mengundang dari filsuf berkebangsaan Denmark yang suka menyendiri, Soren Kierkegaard mengemukakan tentang sanggaha-sanggahan yang sangat tajam dan dia berpendapat bahwa kebanyakan filsafat bukanlah kebijaksanaan yang lahir dari kehidupan melainkan hanyalah kebijaksanaan tentang kebijaksanaan da hanya sedikit berkaitan dengan kehidupan, hanya individu yang nyata dan konkret, realitas eksistensi setiap orang berasal dari ‘kedalaman’ jiwanya sendiri-sendiri bukan dari apapun yang dapat disusun secara sistematis oleh pikiran manusia karena pengetahuan yang diobjektifkan tidak selalu sama dengan kebenaran. Lalu, apa definisi dari eksistensialisme?perlu diketahui bahwa beragamnya penafsiran terhadap eksistensialisme yang tidak punya dalil atau didefinisikan berdasarkan kelaziman. Eksistensialisme adalah sebuah doktrin yang benar-benar memungkinkan manusia menjadi mungkin artinya bahwa manusia mendefinisikan manusia melalui tindakan-tindakannya yang justru membangkitkan hasrat menuju kebahagiaan (optimisme). Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free", bahwa manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.       Kekhawatiran akan ketidakamanan lingkungan sekitar dan analisis pencarian penyebab-penyebabnya sangat erat dengan motif eksistensial dalam karya Karl Jaspers (Prof. Filsafat di Heidelberg) bahwa “sangkaan yang kuat pada kemajuan masyarakat peradaban teknologis yang hanya sebagai penyakit sosial. Semakin besarnya ketergantungan terhadap pemikiran objektif harus dibayar dengan terpinggirnya eksistensi manusia”. Maksudnya adalah dengan terbentuknya suatu masyarakat, maka kehendak-kehendak individu semakin terbinasa dikarenakan dengan adanya suatu masyarakat maka semakin terbentuknya suatu objektivitas (dalam hal ini “kesepakatan”).Prinsip yang perlu diketahui dari eksistensialisme adalah eksistensi mendahului esensi yaitu manusia berkehendak dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri/menjadi diri sendiri. Dan pengertian dari subjektivitas adalah kebebasan-kebebasan subjek-subjek individual yang dimana manusia tidak dapat melampaui subjektivitasnya (memilih keputusan yang baik).  Eksistensialisme juga menolak dengan adanya pengingkaran dan keputusasaan karena diri sendirilah yang dapat menentukan hidup sendiri dan membatasi diri sendiri untuk menggantungkan diri pada semua yang berada dalam keinginan-keinginan kita didalam keseluruhan yang memungkinkan tindakan-tindakan kita dapat dilakukan.Ketika Rene Descartes berkata bahwa "taklukkan diri dulu, sebelum menaklukkan dunia". Kaum marxis juga berkata bahwa "tindakan anda dibatasi oleh kematian, tetapi anda dapat mengandalkan bantuan orang lain". Dan yang terakhir kaum eksistensialis juga berkata “tidak ada cinta yang dapat dilepaskan dari tindakan cinta, tidak ada potensi cinta lain kecuali diwujudkan dalam tindakan mencinta, tidak ada genius lain apapun yang diekspresikan dalam karya seni. Pemikiran ini menempatkan orang pada suatu posisi untuk melihat bahwa hanya realitalah yang dapat kita percayai. Bahwa mimpi, harapan, dan keinginan hanyalah impian kosong, harapan yang belum terwujud dan keinginan yang belum terpenuhi.

Senin, 21 Oktober 2013
                Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-buku para politikus dan para ilmuwan-ilmuwan sosial. Yaitu terjadi kesalahpahaman dalam artian bahwa tidak ada yang lebih luas daripada pandangannya selain pandangan terhadap materialisme Marx. Mungkin karena berbeda referensi?

Yang mesti dikaji untuk sampai kepada pemahaman filsafat Marx adalah kesalahpahaman terhadap konsep materialisme dan materialisme historis. Anggapan  tentang konsep tersebut bahwa kebutuhan manusia terhadap materi yang tidak ada habisnya dan kesenangan merupakan motivasi utama manusia, yaitu melupakan fakta kecil bahwa kata-kata idealisme dan materialisme yang dipakai oleh Marx tidak mempunyai keterkaitan dengan motivasi psikis terhadap tingkat spiritual seseorang yang lebih tinggi dan bertentangan dengan motivasi psikis terhadap tingkat spiritual yang lebih rendah.

Marx di anggap percaya bahwa motif psikologis manusia yang tertinggi adalah keinginannya untuk memperoleh dan bersenang-senang dengan uang maksudnya adalah upaya untuk memperoleh keuntungan maksimal merupakan pendorong utama dalam kehidupan pribadinya dan manusia pada umumnya. Dan asumsi Marx mengabaikan kepentingan individu; bahwa dia tidak menghargai atau memahami kebutuhan spiritual manusia bahwa idealitasnya adalah seorang manusia yang terpenuhi pangan dan sandang secara baik tetapi tidak berjiwa. Kritik marx terhadap agama dianggap identik dengan penolakannya terhadap semua nilai spiritual dan yang terakhir ini menjadi konkret bagi orang-orang yang beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan berarti berorientasi spiritual.
           
           Materi yang bergerak adalah hal yang mendasar dari alam semesta yang berangkat dari pandangan pra-Socrates,  meskipun dia materialis akan tetapi ini menjadi sebagai sebuah aturan nilai atau prinsip etis. Sebaliknya idealisme, bukan berarti dunia empirik yang senantiasa berubah dan menyatakan realitas, tetapi esensi (ke-apa-an) yang tidak memiliki badan atau ide. Sistem Plato adalah sistem filsafat tentang idealisme (idealisme Plato) bahwa Marx dinyatakan sebagai seorang materialis dalam ontologi, dia bahkan tidak tertarik dan hampir tidak bercampur tangan dengan masalah tersebut. Materialisme ini mengajarkan bahwa perasaan dan ide-ide cukup dijelaskan sebagai hasil dari proses kimia dalam tubuh “pemikiran merupakan representasi dari otak sebagaimana kencing merupakan representasi dari ginjal.”
         
          Marx menentang materialisme abstrak dalam sains alam yaitu mengabaikan sejarah dan prosesnya (dalam bukunya “Manuskrip tentang ekonomi dan filsafat”  yang menyatakan kebenaran kesatuan antara idealisme dan materialisme. Faktanya, bahwa Marx tidak pernah menggunakan istilah materialisme historis atau materialisme dialektis; dia justru memakai istilah metode dialektika yang terbalik dengan metode dialektika Hegel yang mengacu terhadap kondisi-kondisi yang mendasar terhadap eksistensi manusia. Marx mengatakan “kami berangkat dari manusia yang nyata dan aktif, dan berdasarkan proses kehidupannya yang nyata, kami menunjukkan perkembangan gerak reflex dan gema ideologis dari proses kehidupan ini”. Dan “ filsafat Hegel tidak lain kecuali filosofis dari dogma-Kristen Jerman yang berkontradiksi antara jiwa dan materi, Tuhan dan dunia.  Dan Hegel mengasumsikan bahwa sejarah yang spekulatif dan melatari sejarah yang empiris. Sejarah manusia diubah menjadi sejarah jiwa manusia yang abstrak, yang mentransendensikan manusia nyata.
         
          Marx mendeskripsikan metode historisnya secara ringkas “ cara dimana manusia memproduksi alat-alat penghidupannya pertama-tama tergantung pada sifat dari alat aktualisasi yang ditemukan manusia dalam eksistensinya dan yang harus dibuatnya kembali. ”Marx juga membedakan antara materialisme historis dan materialisme kontemporer yaitu dengan tesisnya tentang Feurbach, “kelemahan pokok semua materi bahwa objek, realitas yang ditangkap melalui indera dipahami hanya dalam bentuk objek atau kontemplasi; tetapi bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi, sebagai praktek; bukan secara subjektif. Lawan dari materialisme, sisi aktif dari suatu objek dikembangkan secara abstrak oleh idealisme yang tentunya tidak mengenal secara inderawi. Feurbach membagi 2 objek yaitu objek inderawi dan objek berpikir tetapi dia tidak memahami aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas objektif. Marx melihat sebuah objek yang dapat dijelaskan dari sebab fisiknya dan bagi pandangan Hegel, Marx mempelajari manusia dan sejarah berangkat dari manusia nyata dan kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tempat dia hidup dan bukan berangkat dari ide-idenya. Marx jauh dari materialisme borjuis sebagaimana dia jauh dari idealisme Hegel, nah makanya dia dapat berkata bahwa filsafatnya bukanlah idealisme maupun materialisme tetapi sintesis antara humanisme dan naturalisme.
         
           Kesimpulannya, materialisme historis sama sekali bukanlah sebuah teori psikologi; materialisme historis mengacu kepada cara manusia memproduksi yaitu cara berpikir dan hasratnya, dan bukan bahwa dorongan manusia yang paling besar adalah untuk meraih materi secara maksimal dan penafsiran filsafat Marx terhadap sejarah yaitu aspek antropologis , jika kita hendak meniadakan ambiguitias kata-kata materialistik dan ekonomis. Jadi menurut Marx, manusia adalah “pengarang dan aktor sejarahnya sendiri”(dalam bukunya Erich Fromm “konsep manusia menurut Marx” disertai terjemahan ; economic and philosophical manuscript –Karl Marx)
Jumat, 26 Juli 2013


           Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau kesalahan berfikir masih menjebak dalam benak kita. Pengacauan intelektual yang masif dan intensif pada masa orde baru(bahkan sampai kini), merupakan hambatan terbesar dalam upaya melakukan rekayasa sosial. Dalam setiap transformasi sosial yang terjadi dimasyarakat dibutuhkan seorang pemikir yang dapat menggerakkannya. Para pemikir yang mempunyai idea masing-masing tidak hanya mampu melontarkan ide-ide bagi transformasi juga mampu mensosialisasikan buah pikirannya tersebut kepada masyarakat. Sebagai mahasiswa yang mengklaim diri sebagai kaum intetelektual sepantasnya untuk berfikir bagaimana melakukan transformasi diri serta transformasi sosial menuju ke arah yang jauh lebih baik. Untuk mencapai hal tersebut kita sepantasnya menghindari berbagai kesalahan berfikir yang mengakibatkan gagalnya kita dalam berfikir. Berikut kesalahan berfikir tersebut :

 1.Fallacy of Dramatic Instance berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan apa yang dikenal dengan over-generalisation. Yaitu, penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum. Kerancuan berfikir semacam ini banyak terjadi dalam berbagai sosial.  Misalnya :
*Andi adalah mahasiswa Unhas
  Ando adalah mahasiswa Unhas
  Ando adalah mahasiswa yang cerdas
  Jadi, Andi juga mahasiswa yang cerdas
  (karena keduanya mahasiswa Unhas)*
Kadang-kadang, overgeneralisasi terjadi dalam pemikiran kita saat memandang seseorang, sesuatu atau tempat. Padahal, orang itu selalu berubah sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada orang yang sama terus-menerus dan selama-lamanya.

 2. Fallacy of Retrospective Determinism adalah menjelaskan sebagai kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Cara berpikir ini selalu mengacu pada “kembali ke belakang” atau “historis”. Atau secara jelasnya disebutkan sebagai upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan dalam sejarah masa lalu.
Misalnya, ada suatu masalah sosial yang bernama korupsi di Indonesia. Sebagai orang yang mengatakan : “mengapa  korupsi itu harus diberhentikan sepanjang sejarah korupsi di Indonesia itu ada dan tidak bisa dibasmi. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan bukan untuk menghilangkan korupsi di Indonesia, melainkan meminimalisir korupsi agar terhindar dari dampak-dampak yang tidak diinginkan. Karena, sekali lagi, korupsi itu sudah ada sepanjang sejarah.”
 3. Post Hoc Ergo Propter Hoc dari bahasa latin : post artinya sesudah, hoc artinya demikian; ergo artinya karena itu : propter artinya disebabkan : dan hoc artinya demikian. Singkatnya sesudah itu- karena itu- oleh sebab itu. Jadi,bila ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka dapat dinyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua. Sebagai contoh, ada seorang mahasiswa yang lebih suka dengan bajunya yg berwarna merah dibanding bajunya yang lain hanya karena ketika baju warna merah itu dipakai selalu nilainya  tinggi pada saat final (IP di atas rata-rata) atau IP nya tinggi apabila dia memakai baju yg berwana merah itu. Dulu, waktu dia tidak pernah memakai baju warna merah itu nilai mata kuliahnya (IP) selalu rendah. dan salah satu temannya berkata:  “kalau anda memakai itu baju warna merah selalu mendapatkan nilai IP di atas rata-rata. Dulu, waktu sebelum atau tidak memakai baju yang berwarna merah itu. nilaimu selalu di bawah rata-rata. Nah, baju yang berwana merah itu dikatakan baju yang membawa keberuntungan bila dipakai saat final (baju andalan).

 4. Fallacy of Misplaced Concretness berarti salah letak. Maksudnya adalah kesalahan berpikir yang muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang sebenarnya adalah abstrak. Atau dapat dikatakan sebagai menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya ada dalam pikiran kita. Misalnya mengapa orang Islam secara ekonomi dan politik lemah?mengapa kita tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan baik?lalu ada orang menjawab : “kita hancur karena kita berapa pada satu sistem jahiliyah. Kita hancur karena ada thaghut itu adalah dua hal dua hal yang abstrak sehingga jika jawabannya seperti itu, lalu apa yang bisa dilakukan?kita harus mengubah system! Tetapi, “siapa” system itu? System yang abstrak itu kita pandang sebagai sesuatu yang konkret.

 5. Argumentum ad Verecundiam ialah berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Ada beberapa orang yang menggunakan otoritas untuk membela paham dan kepentingannya sendiri.dengan mengutuip suatu peristiwa dalam sirah (perjalanan) Nabi, dia membenarkan paham dan kepentingannya sendiri. Padahal, peristiwa yang dikutipkannya itu belum tentu relevan dengan masalah atau tema yang sedang diperbincangkan.

 6. Fallacy of Composition adalah dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti juga berhasil untuk semua orang. Sebagai contoh, di suatu kampung ada yang memelihara ayam. Ayam petelur negeri itu berhasil mendatangkan uang banyak bagi pemiliknya. Melihat itu, dengan serta-merta penduduk kampung menjual sawahnya untuk dijadikan modal bisnis ayam petelur. Akibatnya, semua penduduk kampung itu bangkrut lantaran merosotnya permintaan dan membanjirnya pasokan barang.

 7. Circular Reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semula. Misalnya perdebatan tentang rendahnya prestasi intelektual umat Islam di Indonesia. Orang pertama membuktikan konklusi tersebut dengan membandingkan persentase mahasiswa Islam dan non-Islam pada program S2 dan S3. Haslnya, makin tinggi tingkat pendidikan, makin menurun trend kehadiran orang Islam di dalamnya. Padahal, di tingkat sekolah dasar, persentase sis Muslim adalah 95%. Kesimpulannya, umat Islam di Indonesia menduduki posisi intelektual yang rendah. Lalu, orang kedua menyatakan bahwa hal ini terjadi lantaran orang-orang Islam diperlakukan tidak sederajat dengan orang-orang non Islam. Jadi, ada perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang Islam. Sampai-sampai , orang-orang Islam serng dicoret dari program-program pendidikan tinggi. Orang pertama menjawab lagi, “orang Islam itu dicoret karena orang meragukan kemampuann intelektualnya. “Dengan jawaban ini, kita kembali pada pokok masalah. Akhirnya, perdebatan itu terus-menerus berputar di sekitar itu.  



referensi : rekayasa sosial - Jalaluddin Rakhmat