Popular Posts
-
Apa itu Negara dan apa unsur-unsur Negara? Apakah Negara itu perlu bagi suatu wilayah? Darimanakah asal mula Negara itu ada?...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Berbicara mengenai konsep kekinian, tentu manusia tidak terlepas dari apa yang dibutuhkan atau yang dinginkannya yaitu belajar. Apa...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Apakah Indonesia adalah Negara hukum atau politik? Lantas, yang manakah yang menjadi sebab terciptanya sesuatu, apakah ...
-
Manakah yang lebih berpengaruh terhadap pribadi mahasiswa?kuliah hanya sekedar kuliah ataukah dengan mendapatkan IP/IPK yang tinggi at...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Logika & Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logika & Filsafat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Juli 2014
Pergerakan mahasiswa menjadi multitafsir terhadap yang dimaksud dengan idealisme terhadap dunia post-modernisme ini yang mendarah daging dalam jiwa idealisme mahasiswa yaitu bebas nilai terhadap kejadian yang terjadi.
Secara universal, perlu dikatakan bahwa mahasiswa dan bukan mahasiswa adalah manusia itu sendiri, dimana mahasiswa haruslah memahami manusia secara universal melalui fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia. Menurut Murtada Muthahhari (pemikir dari Iran) bahwa fitrah manusia itu memiliki 2 fitrah yaitu fitrah menalar (akal) dan fitrah merasa (hati).
Terkadang mahasiswa menggunakan fitrah menalar (analisis) sampai lupa dengan fitrah merasa (hati) terhadap masyarakat atau publik dan inilah disebut dengan idealisme kiri. Juga ada mahasiswa yang menggunakan fitrah merasa (hati) sampai lupa terhadap fitrah menalar (akal) terhadap penalaran masyarakat/publik yang mengakibatkan pergerakan mahasiswa menjadi luntur. Hal yang sangat cenderung mempengaruhi dunia kemahasiswaan adalah terbentuknya pemikiran yang konsumtif diakibatkan produk-produk yang memerangi alam bawah sadar masyarakat modern yang sesuai dengan bahasa Antonio Gramsci yang disebut dengan hegemoni (penyerangan alam bawah sadar). Maksudnya adalah mahasiswa cenderung memiliki penyakit untuk berpikir bagaimana kemudian dapat memiliki produk, sehingga ketika semakin banyak produk yang dimiliki mahasiswa maka mahasiswa akan semakin disibukkan untuk merawat produk yang dimiliki sehingga mengurangi waktu untuk berpikir terhadap perubahan zaman, misalnya penyelewengan kekuasaan, kezaliman terjadi di suatu daerah tertentu. Dan hal ini juga menjadi penyebab lunturnya gerakan mahasiswa sekarang ini. Akankah mahasiswa membiarkan kezaliman ini terus terjadi? sebagaimana seseorang membutuhkan payung ketika hujan terjadi, sebagaimana itu pula manusia merindukan akan adanya keadilan yang hakiki dan mahasiswa memiliki amanah untuk itu dalam artian perubahan zaman dari kezaliman menuju keadilan.
Meminjam dari bahasa seorang pemikir yang bernama Erich Fromm bahwa penyakit manusia modern adalah manusia disibukkan untuk bagaimana kemudian untuk dapat dicintai sehingga lupa akan cara bagaimana kita dapat mencintai sesuatu. Misalnya dalam dunia keperempuanan disibukkan dengan dunia-dunia kosmetik dan laki-laki disibukkan dengan dunia style (gaya hidup yang sesuai dengan produk yang ada). Sehingga, tolak ukur pergaulan mahasiswa cenderung kepada produk apa yang kita miliki.
Tidak ada yang salah dalam dunia modern ini dikarenakan dunia modern atau perkembangan teknologi adalah sesuatu yang pasti terjadi, tapi bagaimana kemudian mahasiswa tidak kehilangan nilai yang dipikulnya salah satunya adalah sebagai penggerak perubahan. akankah mahasiswa membiarkan kezaliman yang mendarah daging di negara ini?
Kemudian yang menjadi permasalahan adalah pergerakan mahasiswa tidak lagi disertai dengan gerakan cinta dalam artian mahasiswa haruslah memahami nilai kemahasiswaan disertai dengan cara-cara yang modern atau sesuai dengan zaman dan perlunya mahasiswa untuk menganalisis zaman untuk menjawab pergerakan mahasiswa. Cara untuk memberi sesuatu itu melalui perkembangan zaman (budaya) dan nilai (tujuan) yang akan disampaikan dari segi kemahasiswaan itu tidak pernah berubah. Ketika mahasiswa sudah memiliki nilai apa yang akan dicapai melalui sejarah, maka diperlukan juga mengenali budaya untuk memiliki metode atau cara untuk mahasiswa menyampaikan nilai kemahasiswaan, maka pada saat itulah pergerakan cinta terjadi yaitu pergerakan yang memahami nilai kemahasiswaan dan memahami zaman yang disebut tantangan pergerakan cinta.
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Rabu, 26 Maret 2014
Sesuatu yang sesungguhnya adalah
ketika sesuatu itu bertemu dengan kemusnahan kecuali Sang Pencipta Sesuatu
(Maha Pencipta mengakibatkan Diri-Nya menjadi Maha Kekal). Hari-hari yang telah
manusia lewati yang pada hakikatnya adalah ketika kegelapan itu suatu saat akan
bertemu dengan ke-terang-an , ketika malam dan siang itu bertemu, hujan dan
panas itu bertemu dalam sehari dan laki2 dan perempuan (semua diciptakan berpasang-pasangan).
Adakah manusia yang sebagai ciptaan akan mengatakan bahwa bumi dan seisinya ini
tidak seimbang?
Satu hal yang sangat tidak asing
lagi pada daun telinga manusia ketika mendengar suatu kalimat yang menyatakan
bahwa “TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA”, yang dimana pada realitasnya mungkin
manusia itu berbicara kepada diri sendiri (merenung) ataukah berinteraksi
dengan manusia lainnya. Kalau asumsinya seperti yang manusia katakan tadi, maka
tidak ada satupun manusia yang pernah, sekarang atau akan hidup di muka bumi
ini terlahir sebagai manusia sempurna. Berarti konklusinya adalah tidak ada
yang menjadi standar/tolak ukur manusia sempurna dan hanya Tuhan yang Sempurna
karena Dia Maha Sempurna.
Kekeliruan itulah yang manusia
konsepsikan di dalam pikirannya sebagaimana dalam teori dialektika hegel (ide
mempengaruhi materi), sehingga terjadi sebuah pergeseran paradigma terhadap
diri sendiri dan sekitarnya. Ketika paradigma bergeser maka konsekuensinya
adalah tingkah laku manusia pun akan bergeser dikarenakan tidak ada manusia
yang sempurna dan tidak ada tolak ukur manusia yang sempurna yang kemudian
dengan sebuah kesimpulan bahwa manusia itu hidup tidak memiliki tujuan.
1. Akankah manusia hidup tanpa tujuan?
2. Akankah suatu ciptaan (manusia) tidak memiliki tolak ukur?
3. Akankah manusia itu stagnan dalam bertingkah laku/mengkritik/gosip
untuk sebuah pembenaran terhadap hakikat manusia?
Manusia
yang menulis pun tentu memiliki tujuan dan sebab-akibat sehingga mengapa dia
menulis. Yang dimana penulis tersebut lahir dari kedua orang tua dan pasangan
manusia yang pertama kali adalah Nabi Adam As dan Hawa yang sebagai ciptaan
dari Sang Sebab Awal (Tuhan). Dan salah satu tujuannya adalah membagi ilmu
pengetahuan karena semua Milik-Nya dan ciptaan-Nya dan dikarenakan ilmu
pengetahuan mempunyai sumbangsih terhadap peradaban manusia. Kalaupun Tuhan
menciptakan manusia itu tanpa tujuan berarti ada suatu hal yang gugur Dari-Nya
bahwa Dia bukan segalanya, Dia tidak bijaksana. Apakah Tuhan masih disebut
Tuhan ketika dia tidak bijaksana? Tentu tidak.
Ketika
manusia itu telah diciptakan memiliki tujuan dan karena Tuhan Maha Penyayang
maka sebagai konsekuensi logis adalah Tuhan menunjuk/memilih seorang manusia
sebagai tolak ukur terhadap manusia lainnya (keturunan) yaitu Nabi Muhammad
SAW. Karena dia tidak pernah salah maka dia disebut sebagai manusia sempurna.
Kalaupun dia pernah salah berarti Tuhan telah menunjuk/memilih manusia yang
salah sebagai contoh. Akankah Tuhan melakukan penunjukan yang salah?
Jawabannya; mustahil. Namun, apakah kemudian kita tidak dapat mencontohi Nabi
Muhammad? Mungkin jawabannya “Nabi dan manusia itu berbeda”. Apakah Nabi itu
bukan manusia? Dan ketika dia sebagai manusia sempurna akankah manusia yang
lainnya tidak akan sempurna? Nabi secara fisik disebut sebagai manusia, tapi
secara pengetahuan dan jiwa tentu berbeda, tetapi bukan berarti manusia lainnya
tidak dapat mengikutinya. Karena Nabi Muhammad hadir untuk menjawab tantangan
zaman. Namun, apakah dengan hadirnya Nabi Muhammad sebagai teladan, manusia
yang lainnya tidak dapat melakukan perubahan dalam diri yang akan mempengaruhi
di sekitarnya? Secara logis jawabannya adalah potensial.
Frasa
potensial tidak dapat ditafsirkan atau disamakan dengan stagnan/tidak mungkin.
Pada hakikatnya berbicara potensial tentu akan mengarah kepada sesuatu yang
berkembang jika dikembangkan dan menurun jika tidak dikembangkan. Jadi, manusia
itu secarap otensial dapat menjadi sempurna dan juga secara potensial dapat
menjadi semakin tidak sempurna berdasarkan tingkatan kesempurnaan. Dan fitrah
manusia, pada hakikatnya adalah mencari
kebenaran untuk menuju kesempurnaan.
Label:
Logika & Filsafat
|
1 komentar
Perbincangan mahasiswa,
kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya,
biarpun yang ditampilkannya itu seperti anak sekolahan (ABG), mahasiswa yang
berlembaga dan mahasiswa yang berorganisasi. Akankah ketiga karakter dari mahasiswa menjadi
penerus bangsa? tentu saja walaupun tidak secara keseluruhan, tetapi akankah
mahasiswa sadar yang secara substansial sebagai pemuda yang memiliki nalar kritis,
agen perubahan dll. Suatu kenakalan berfikir ketika kita menganggap
mahasiswa zaman sekarang yang tidak berorganisasi/berlembaga di ruang lingkup
fakultas-kampus, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam
mata garuda, pikiranmu setajam pisau, perabaanmu lebih peka dari para malaikat,
pendengaranmu dan ratap-tangis kehidupan: pengetahuanmu tentang mahasiswa yang
tidak berorganisasi/berlembaga di ruang lingkup fakultas-kampus takkan bisa kau
nilai sebagaimana dosen yang memberikan nilai kepada mahasiswanya.
Sudah berapa banyakkah yang kau berikan untuk Negaramu? sehingga menjadikan dirimu fanatik dalam suatu
organisasi/lembaga kampus? Apakah dengan hadirnya Pancasila pada tanggal 1 juni 1945 dan sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 itu muncul sebagai sebuah seremonial belaka? sebagaimana waktu kita duduk di bangku sekolah yang hanya sekedar menghafal kelima sila itu?
Bayangkanlah nasib bangsa Indonesia yang pernah mengalami penjajahan atau
kolonialisme selama tiga abad lebih. Tiga abad lebih itu dalam ukuran rotasi
matematis pertanggalan, tapi jika dalam ukuran perasaan maka satu hari
penjajahan bisa terasa seperti 1 tahun, maka perasaan orang-orang Indonesia
yang terjajah itu bisa lebih dari seribu abad rasanya. Setiap individu yang
terjajah dimana saja dalam kehidupan modern, selalu jumlah waktu yang gelap dalam hidupnya relatif
sama. Maka, seorang mahasiswa yang tidak tergolong dalam suatu komunitas/organisasi/lembaga
kampus yang pada realitasnya tidak berbeda dengan mahasiswa manapun yang
terjajah secara politik dalam suatu komunitas/organisasi/lembaga yang merasakan
galau dan resah sehingga potensi yang dimiliki seorang mahasiswa menjadi
terhambat.
Berdaulat juga bermakna otonom yang
memiliki kemandirian. Otonom berarti sempurna sebagai seorang mahasiswa yang
berkuasa atas kehendaknya sendiri selama tidak merugikan kepentingan umum yang
tidak ada paksaan dari luar (kreatvitas). Bahasanya adalah bahasa hati nurani, bahasa yang
mandiri, bahasa yang hakiki.
Dengan segala kerendahan, untuk
hakim yang terhormat yaitu golongan mahasiswa yang melampaui batas kehendak
Tuhan sebagai hakim yang Maha benar dan Maha adil. Akankah kita memberikan
sebuah kesimpulan/penjustifikasian terhadap ruang gerak potensi yang ingin
dikembangkannya sebagaimana mahasiswa yang terjajah secara politik?
“tidak banyak orang yang melihat yang dengan matanya
sendiri dan merasakan dengan hatinya sendiri.” #AlbertEinstein.
Jika
kita yakin perubahan/potensi yang dimiliki setiap mahasiswa itu sebagai sebuah
kebenaran. Maka, perubahan itu haruslah terkonstitusikan. Bukan hanya
konstitusi seperti yang dideklarasikan secara tertulis, tetapi juga konstitusi
yang tertulis di dalam hati mahasiswa. Konstitusi yang paling lembut itu tertulis
dengan darah yang mengalir sepanjang kehidupannya sebagai ciptaan Tuhan. salam mahasiswa!
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Suatu wacana yang menarik ketika kita mengkaji filosof dan ilmuwan.
Apakah filosof (ahli filsafat ilmu) dan ilmuwan itu berbeda ataukah sama?
Kalaupun sama, apakah filosof dan ilmuwan mempunyai kesamaan secara keseluruhan
atau sebagian? Dan kalaupun beda, dari segi apa para filosof dan ilmuwan
mempunyai perbedaan? Kemudian, bagaimana para filosof mengkaji sesuatu dan para
ilmuwan mengkaji sesuatu?
Berbicara megenai filosof dan
ilmuwan identik dengan memperbincangkan masalah teori. Istilah teori dalam
kamus memiliki variasi yang begitu luas cakupannya. Contohnya, detektif swasta
dalam televisi mempunyai suatu ‘teori’ tentang kasus pembunuhan yang belum
terungkap. Seperti istilah yang digunakan detektif, teori menunjukkan dugaan, perkiraan
(hipotesis). Sebagian mahasiswa yang menganggap teori sebagai lawan dengan
pelajaran lain yang sifatnya praktis dan relevan. Menurut mereka yang dengan
menggunakan kata-kaa klise, “itu
dapat dilakukan dalam teorinya, kan tetapi dalam prakteknya tidak akan
berhasil.” Dan teori pula dapat diartikan sebagai renungan atau
perkiraan tentang suatu fenomena yang memusingkan kepala.
Ernest Nangel sebagai salah
seorang tokoh terkemuka yang telah mengemukakan tentang apa yang disebut dengan
received view yang dikarenakan suatu
alasan yag dilengkapi dengan keterbatasan satu-satunya alternatif yang lain,
yang disebut dengan anggapan umum biasanya tidak tepat dan tidak konsisten
sehingga pilihan untuk meyakini kesamaan di antara berbagai fenomena, perbedaan
atau dalam salah satu di antara keyakinan yang saling bertentangan hanya semata
dibuat-buat dan tanpa pedoman yang rasional. Maksudnya adalah suatu anggapan
umum yang penekanannya hanya kepada pengalaman biasa setiap hari. Karena
anggapan umum berasal dan diterapkan secara langsung kepada masalah-masalah
yang sifatnya praktis, maka rentang daya gunanya tidaklah menjangkau lebih dari
hal-hal yang rutin dari pengalaman setiap hari, yang dimana penekanannya
cenderung menyebabkan pengetahuan kita mandeg
(stagnasi) dan menjadi kaku dalam berfikir yang tidak dapat dihindari. Dan
ketika hal tersebut menjadi kaku, maka pengetahuan semacam itu lalu menjadi
kebiasaan dan tradisional (menjadi suatu kelaziman) sehingga untuk menghadapi
problema atau situasi sosial yang sebelumnya belum pernah dihadapi menjadi
rusak.
Para filosof (ahli filsafat) di
bidang ilmu, harus diingat bukanlah ilmuwan dan mereka pun tidak pernah
menyatakan dirinya sebagai ahli dalam setiap bidang ilmu dengan cara yang a priori, apa yang harus dilakukan.
Mereka adalah ahli filsafat yang mengkaji masalah filosofis yang berhubungan
dengan perkembangan teoritis secara umum dan perkembangan teori ilmiah dari
suatu disiplin ilmu secara partikulir (khusus). Untuk bidang pengetahuan
tertentu ahli filsafat dapat mengorganisasi dan mensistematiskan pengetahuan
dalam kerangka pengetahuan yang ada dalam teoritis dan menjelaskan prinsip
ilmiah yang telah dikonfirmasi/diterima secara luas dan menelusuri perkembangan
historis dari prinsip tersebut.
Seketika Robson sebagai salah
satu ahli sosiologi, merumuskan kembali kata Lakatos (seorang filsafat ilmu)
bahwa sumbangan filsafat ilmu adalah “seakan mengatakan kepada para ilmuwan apa
yang telah mereka lakukan dan mengpa mereka melakukannya setelah mereka
melaksanakannya. Dan para filosof sendiri tanpa terpecah-pecah dalam hal
nasihat apa dan penyuluhan apa yang selayaknya mereka berikan kepada kita.”
Para ilmuwan mungkin saja telah
mendeduksinya secara logis dari seperangkat aksioma dan sekarang ia memiliki
suatu kebenaran baru yang sifatnya potensial atau mungkin telah mencetuskan
hipotesis itu dari studi penelitian terdahulu menghasilkan sebuah hasil yang
tidak terduga sebelumnya atau hasil sekilas. Penggambaran tradisional
penelitian ilmiah dinamakan sebagai penghampiran hypothetico-deductivism (hipotesis-deduktivisme/umum ke khusus)
yang terbagi dalam 2 macam, yakni; fase perumusan hipotesis dan fase
pengujiannya. Dan para filosof
mengatakan “suatu kesimpulan yang benar dari suatu argumen deduktif (umum ke
khusus) harus benar jika premis-premis yang
digunakan juga benar.”
Dengan cara itulah deduktif
ditegakkan. Jika hipotesis (H) benar, maka prediksi (P) merupakan efek juga
juga benar. Dan efek yang diramalkan telah teramati. Masalah dalam usaha
mengkonfirmasi hipotesis secara langsung merupakan masalah formal dalam hukum
logika bersyarat (jika...maka). Bentuk yang langsung, yaitu:
Hipotesis>Prediksi (jika H, maka P)
Prediksi (P) (P =
teramati/sebagai akibat)
maka Hipotesis (H) (H dapat diterima)
Bentuk deduksi di atas melakukan
kesalahan pada waktu menegaskan akibat (P). Yang secara logis maka tidak akan
ada kesimpulan yang benar dapat ditarik. Karena alasan itulah maka prediksi itu
dinyatakan dalam bentuk “nol”, yang secara khusus memprediksi tidak ada pengaruh
yang berbeda. Maka, observasi berusaha mengingkari akibat nol itu (tidak ada
pengaruh) sehingga demikian akan memperkuat hipotesis secara tidak langsung.
Jadi bentuk deduktif dari
eksperimen tertentu mengambil bentuk sebagai berikut. Jika hipotesis itu tidak
benar (-H) maka perbedaan yang diprediksi tida akan diharapkan (-P). Observasi
lalu ditujukan untuk mencari fakta untuk menolak keadaan tanpa perbedaan itu
(-P), dengan cara itu dapat diingkari kesalahan hipotesis. Bentuk negatif ganda
dari logika deduktif atas eksperimen menjadi:
- H > -P (jika
tidak –H, maka tidak –P)
- (-P) (observasi
menolak prediksi nol)
Maka H (Hipotesis
diterima secara indirect / tidak
langsung)
Tujuan
dari penjelasan yang diatas secara sederhana adalah untuk memperlihatkan bahwa
jika hipotesis dikonfirmasikan dalam kerangka kerja hipotetiko-deduktif, sistem
logika yang diterapkan adalah deduktif secara ekslusif yang dimana
hipotesis itu tidak secara langsung
teramati atau dikonfirmasikan. Akan tetapi, ia lebih dianggap ada setelah
usaha enyalahkan hipotesis gagal/negatif ganda. Model hipotetiko dalam
pengolahan ilmu secara jelas menempatkan penekanan yang bersar terhadap
justifikasi. Dan para filosof ilmu yang tradisional, agak mengabaikan problem
ini secara ceroboh dengan mengemukakan tiadanya logic of discovery (logika penemuan).
Bila awan gelap yang menutupi semua itu reda, kita masih
saja tinggal dalam posisi tidak lebih banyak daripada sekumpulan generalisasi
dan hipotesis setengah pasti yang diperoleh dari penelitian. #para filosof
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Sabtu, 07 Desember 2013
Hidup adalah kekosongan
sampai manusia menghidupi yang menjadi tugas manusia untuk memberi makna atas
hidup tersebut dan makna hidup tidak lain adalah makna yang anda pilih.
Meskipun gerakan eksistensialisme di Perancis hampir mencapai sukses popularitas,
adalah gerakan yang berlalu begitu saja dan mencapai waktu kurang lebih dari
satu abad. Dan juga eksistensialisme digambarkan sebagai anti-historis, para
pendukungnya menunjukkan minat yang tidak kecil dari para pendahulu mereka.Pernyataan
mengenai eksistensial muncul pertama kali ketika zaman keemasan filsafat Jerman
mencapai puncak pada system dialektika-nya Hegel. Mengundang dari filsuf
berkebangsaan Denmark yang suka menyendiri, Soren Kierkegaard mengemukakan
tentang sanggaha-sanggahan yang sangat tajam dan dia berpendapat bahwa
kebanyakan filsafat bukanlah kebijaksanaan yang lahir dari kehidupan melainkan
hanyalah kebijaksanaan tentang kebijaksanaan da hanya sedikit berkaitan dengan
kehidupan, hanya individu yang nyata dan konkret, realitas eksistensi setiap
orang berasal dari ‘kedalaman’ jiwanya sendiri-sendiri bukan dari apapun yang
dapat disusun secara sistematis oleh pikiran manusia karena pengetahuan yang
diobjektifkan tidak selalu sama dengan kebenaran. Lalu, apa
definisi dari eksistensialisme?perlu diketahui bahwa beragamnya penafsiran
terhadap eksistensialisme yang tidak punya dalil atau didefinisikan berdasarkan
kelaziman. Eksistensialisme adalah sebuah doktrin yang benar-benar memungkinkan
manusia menjadi mungkin artinya bahwa manusia mendefinisikan manusia melalui
tindakan-tindakannya yang justru membangkitkan hasrat menuju kebahagiaan
(optimisme). Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme
paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan
diktumnya "human is condemned to be free", bahwa manusia
dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia
bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan
eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam
istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang
bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah
satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap
individu adalah kebebasan individu lain. Kekhawatiran akan ketidakamanan
lingkungan sekitar dan analisis pencarian penyebab-penyebabnya sangat erat
dengan motif eksistensial dalam karya Karl Jaspers (Prof. Filsafat di
Heidelberg) bahwa “sangkaan yang kuat pada kemajuan masyarakat peradaban
teknologis yang hanya sebagai penyakit sosial. Semakin besarnya ketergantungan
terhadap pemikiran objektif harus dibayar dengan terpinggirnya eksistensi
manusia”. Maksudnya adalah dengan terbentuknya suatu masyarakat, maka kehendak-kehendak
individu semakin terbinasa dikarenakan dengan adanya suatu masyarakat maka
semakin terbentuknya suatu objektivitas (dalam hal ini “kesepakatan”).Prinsip
yang perlu diketahui dari eksistensialisme adalah eksistensi mendahului esensi
yaitu manusia berkehendak dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri/menjadi
diri sendiri. Dan pengertian dari subjektivitas adalah kebebasan-kebebasan
subjek-subjek individual yang dimana manusia tidak dapat melampaui
subjektivitasnya (memilih keputusan yang baik). Eksistensialisme juga
menolak dengan adanya pengingkaran dan keputusasaan karena diri sendirilah yang
dapat menentukan hidup sendiri dan membatasi diri sendiri untuk menggantungkan
diri pada semua yang berada dalam keinginan-keinginan kita didalam keseluruhan
yang memungkinkan tindakan-tindakan kita dapat dilakukan.Ketika Rene
Descartes berkata bahwa "taklukkan diri dulu, sebelum menaklukkan
dunia". Kaum marxis juga berkata bahwa "tindakan anda dibatasi oleh
kematian, tetapi anda dapat mengandalkan bantuan orang lain". Dan yang
terakhir kaum eksistensialis juga berkata “tidak ada cinta yang dapat
dilepaskan dari tindakan cinta, tidak ada potensi cinta lain kecuali diwujudkan
dalam tindakan mencinta, tidak ada genius lain apapun yang diekspresikan dalam
karya seni. Pemikiran ini menempatkan orang pada suatu posisi untuk melihat
bahwa hanya realitalah yang dapat kita percayai. Bahwa mimpi, harapan, dan
keinginan hanyalah impian kosong, harapan yang belum terwujud dan keinginan
yang belum terpenuhi.
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Senin, 21 Oktober 2013
Pembahasan
mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan
lain sebagainya bahkan dalam buku-buku para politikus dan para ilmuwan-ilmuwan
sosial. Yaitu terjadi kesalahpahaman dalam artian bahwa tidak ada yang lebih
luas daripada pandangannya selain pandangan terhadap materialisme Marx. Mungkin
karena berbeda referensi?
Marx mendeskripsikan metode historisnya secara ringkas “ cara dimana manusia memproduksi alat-alat penghidupannya pertama-tama tergantung pada sifat dari alat aktualisasi yang ditemukan manusia dalam eksistensinya dan yang harus dibuatnya kembali. ”Marx juga membedakan antara materialisme historis dan materialisme kontemporer yaitu dengan tesisnya tentang Feurbach, “kelemahan pokok semua materi bahwa objek, realitas yang ditangkap melalui indera dipahami hanya dalam bentuk objek atau kontemplasi; tetapi bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi, sebagai praktek; bukan secara subjektif. Lawan dari materialisme, sisi aktif dari suatu objek dikembangkan secara abstrak oleh idealisme yang tentunya tidak mengenal secara inderawi. Feurbach membagi 2 objek yaitu objek inderawi dan objek berpikir tetapi dia tidak memahami aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas objektif. Marx melihat sebuah objek yang dapat dijelaskan dari sebab fisiknya dan bagi pandangan Hegel, Marx mempelajari manusia dan sejarah berangkat dari manusia nyata dan kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tempat dia hidup dan bukan berangkat dari ide-idenya. Marx jauh dari materialisme borjuis sebagaimana dia jauh dari idealisme Hegel, nah makanya dia dapat berkata bahwa filsafatnya bukanlah idealisme maupun materialisme tetapi sintesis antara humanisme dan naturalisme.
Kesimpulannya, materialisme historis sama sekali bukanlah sebuah teori psikologi; materialisme historis mengacu kepada cara manusia memproduksi yaitu cara berpikir dan hasratnya, dan bukan bahwa dorongan manusia yang paling besar adalah untuk meraih materi secara maksimal dan penafsiran filsafat Marx terhadap sejarah yaitu aspek antropologis , jika kita hendak meniadakan ambiguitias kata-kata materialistik dan ekonomis. Jadi menurut Marx, manusia adalah “pengarang dan aktor sejarahnya sendiri”(dalam bukunya Erich Fromm “konsep manusia menurut Marx” disertai terjemahan ; economic and philosophical manuscript –Karl Marx)
Yang mesti dikaji untuk sampai
kepada pemahaman filsafat Marx adalah kesalahpahaman terhadap konsep materialisme dan materialisme historis.
Anggapan tentang konsep tersebut
bahwa kebutuhan manusia terhadap materi yang tidak ada habisnya dan kesenangan
merupakan motivasi utama manusia, yaitu melupakan fakta kecil bahwa kata-kata idealisme dan materialisme yang dipakai oleh Marx tidak mempunyai keterkaitan
dengan motivasi psikis terhadap tingkat spiritual seseorang yang lebih tinggi
dan bertentangan dengan motivasi psikis terhadap tingkat spiritual yang lebih
rendah.
Marx di anggap percaya bahwa motif
psikologis manusia yang tertinggi adalah keinginannya untuk memperoleh dan
bersenang-senang dengan uang maksudnya adalah upaya untuk memperoleh keuntungan
maksimal merupakan pendorong utama dalam kehidupan pribadinya dan manusia pada
umumnya. Dan asumsi Marx mengabaikan kepentingan individu; bahwa dia tidak
menghargai atau memahami kebutuhan spiritual manusia bahwa idealitasnya adalah
seorang manusia yang terpenuhi pangan dan sandang secara baik tetapi tidak
berjiwa. Kritik marx terhadap agama dianggap identik dengan penolakannya
terhadap semua nilai spiritual dan yang terakhir ini menjadi konkret bagi
orang-orang yang beranggapan bahwa percaya kepada Tuhan berarti berorientasi
spiritual.
Materi
yang bergerak adalah hal yang mendasar dari alam semesta yang berangkat dari
pandangan pra-Socrates, meskipun dia
materialis akan tetapi ini menjadi sebagai sebuah aturan nilai atau prinsip
etis. Sebaliknya idealisme, bukan berarti dunia empirik yang senantiasa berubah
dan menyatakan realitas, tetapi esensi (ke-apa-an) yang tidak memiliki badan
atau ide. Sistem Plato adalah sistem filsafat tentang idealisme (idealisme Plato)
bahwa Marx dinyatakan sebagai seorang materialis dalam ontologi, dia bahkan
tidak tertarik dan hampir tidak bercampur tangan dengan masalah tersebut.
Materialisme ini mengajarkan bahwa perasaan dan ide-ide cukup dijelaskan
sebagai hasil dari proses kimia dalam tubuh “pemikiran merupakan representasi
dari otak sebagaimana kencing merupakan representasi dari ginjal.”
Marx menentang
materialisme abstrak dalam sains alam yaitu mengabaikan sejarah dan prosesnya
(dalam bukunya “Manuskrip tentang ekonomi
dan filsafat” yang menyatakan
kebenaran kesatuan antara idealisme dan materialisme. Faktanya, bahwa Marx
tidak pernah menggunakan istilah materialisme
historis atau materialisme dialektis; dia justru memakai istilah metode dialektika yang terbalik dengan metode dialektika Hegel yang mengacu
terhadap kondisi-kondisi yang mendasar terhadap eksistensi manusia. Marx
mengatakan “kami berangkat dari manusia yang nyata dan aktif, dan berdasarkan
proses kehidupannya yang nyata, kami menunjukkan perkembangan gerak reflex dan
gema ideologis dari proses kehidupan ini”. Dan “ filsafat Hegel tidak lain
kecuali filosofis dari dogma-Kristen Jerman yang berkontradiksi antara jiwa dan
materi, Tuhan dan dunia. Dan Hegel
mengasumsikan bahwa sejarah yang spekulatif dan melatari sejarah yang empiris.
Sejarah manusia diubah menjadi sejarah jiwa manusia yang abstrak, yang mentransendensikan
manusia nyata.
Marx mendeskripsikan metode historisnya secara ringkas “ cara dimana manusia memproduksi alat-alat penghidupannya pertama-tama tergantung pada sifat dari alat aktualisasi yang ditemukan manusia dalam eksistensinya dan yang harus dibuatnya kembali. ”Marx juga membedakan antara materialisme historis dan materialisme kontemporer yaitu dengan tesisnya tentang Feurbach, “kelemahan pokok semua materi bahwa objek, realitas yang ditangkap melalui indera dipahami hanya dalam bentuk objek atau kontemplasi; tetapi bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi, sebagai praktek; bukan secara subjektif. Lawan dari materialisme, sisi aktif dari suatu objek dikembangkan secara abstrak oleh idealisme yang tentunya tidak mengenal secara inderawi. Feurbach membagi 2 objek yaitu objek inderawi dan objek berpikir tetapi dia tidak memahami aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas objektif. Marx melihat sebuah objek yang dapat dijelaskan dari sebab fisiknya dan bagi pandangan Hegel, Marx mempelajari manusia dan sejarah berangkat dari manusia nyata dan kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tempat dia hidup dan bukan berangkat dari ide-idenya. Marx jauh dari materialisme borjuis sebagaimana dia jauh dari idealisme Hegel, nah makanya dia dapat berkata bahwa filsafatnya bukanlah idealisme maupun materialisme tetapi sintesis antara humanisme dan naturalisme.
Kesimpulannya, materialisme historis sama sekali bukanlah sebuah teori psikologi; materialisme historis mengacu kepada cara manusia memproduksi yaitu cara berpikir dan hasratnya, dan bukan bahwa dorongan manusia yang paling besar adalah untuk meraih materi secara maksimal dan penafsiran filsafat Marx terhadap sejarah yaitu aspek antropologis , jika kita hendak meniadakan ambiguitias kata-kata materialistik dan ekonomis. Jadi menurut Marx, manusia adalah “pengarang dan aktor sejarahnya sendiri”(dalam bukunya Erich Fromm “konsep manusia menurut Marx” disertai terjemahan ; economic and philosophical manuscript –Karl Marx)
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Jumat, 26 Juli 2013
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa
upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar
kalau kesalahan berfikir masih menjebak dalam benak kita. Pengacauan intelektual
yang masif dan intensif pada masa orde baru(bahkan sampai kini), merupakan
hambatan terbesar dalam upaya melakukan rekayasa sosial. Dalam setiap
transformasi sosial yang terjadi dimasyarakat dibutuhkan seorang pemikir yang
dapat menggerakkannya. Para pemikir yang mempunyai idea masing-masing tidak
hanya mampu melontarkan ide-ide bagi transformasi juga mampu mensosialisasikan
buah pikirannya tersebut kepada masyarakat. Sebagai mahasiswa yang mengklaim
diri sebagai kaum intetelektual sepantasnya untuk berfikir bagaimana melakukan
transformasi diri serta transformasi sosial menuju ke arah yang jauh lebih
baik. Untuk mencapai hal tersebut kita sepantasnya menghindari berbagai
kesalahan berfikir yang mengakibatkan gagalnya kita dalam berfikir. Berikut
kesalahan berfikir tersebut :
1.Fallacy of Dramatic Instance berawal dari
kecenderungan orang untuk melakukan apa yang dikenal dengan over-generalisation.
Yaitu, penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general
atau umum. Kerancuan berfikir semacam ini banyak terjadi dalam berbagai sosial. Misalnya :
*Andi adalah mahasiswa Unhas
Ando adalah
mahasiswa Unhas
Ando adalah mahasiswa yang cerdas
Jadi, Andi juga mahasiswa yang cerdas
(karena keduanya
mahasiswa Unhas)*
Kadang-kadang, overgeneralisasi
terjadi dalam pemikiran kita saat memandang seseorang, sesuatu atau tempat. Padahal,
orang itu selalu berubah sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada
orang yang sama terus-menerus dan selama-lamanya.
2. Fallacy of Retrospective Determinism adalah menjelaskan
sebagai kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi
sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari
dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Cara berpikir ini selalu
mengacu pada “kembali ke belakang” atau “historis”. Atau secara jelasnya
disebutkan sebagai upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan
dalam sejarah masa lalu.
Misalnya, ada suatu masalah sosial yang bernama korupsi di Indonesia. Sebagai orang yang mengatakan : “mengapa korupsi itu harus diberhentikan sepanjang sejarah
korupsi di Indonesia itu ada dan tidak bisa dibasmi. Oleh karena itu, yang harus kita
lakukan bukan untuk menghilangkan korupsi di Indonesia, melainkan meminimalisir korupsi agar
terhindar dari dampak-dampak yang tidak diinginkan. Karena, sekali lagi,
korupsi itu sudah ada sepanjang sejarah.”
3. Post Hoc Ergo
Propter Hoc dari bahasa latin : post artinya sesudah, hoc artinya demikian;
ergo artinya karena itu : propter artinya disebabkan : dan hoc artinya
demikian. Singkatnya sesudah itu- karena itu- oleh sebab itu. Jadi,bila ada
peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka dapat dinyatakan bahwa yang
pertama adalah sebab dari yang kedua. Sebagai contoh, ada seorang mahasiswa yang lebih
suka dengan bajunya yg berwarna merah dibanding bajunya yang lain hanya karena ketika baju warna merah itu dipakai selalu nilainya tinggi pada saat final (IP di atas rata-rata) atau IP nya tinggi apabila dia memakai baju yg berwana merah itu. Dulu, waktu dia tidak pernah memakai baju warna merah itu nilai mata kuliahnya (IP) selalu rendah. dan salah satu temannya berkata: “kalau anda memakai itu baju warna merah selalu mendapatkan nilai IP di atas rata-rata. Dulu, waktu sebelum atau tidak memakai baju yang berwarna merah itu. nilaimu selalu di bawah rata-rata. Nah, baju yang berwana merah itu dikatakan baju yang membawa keberuntungan bila dipakai saat final (baju andalan).
4. Fallacy of
Misplaced Concretness berarti salah letak. Maksudnya adalah kesalahan berpikir
yang muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang sebenarnya adalah abstrak.
Atau dapat dikatakan sebagai menganggap real sesuatu yang sebetulnya
hanya ada dalam pikiran kita. Misalnya mengapa orang Islam secara ekonomi dan
politik lemah?mengapa kita tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan
baik?lalu ada orang menjawab : “kita hancur karena kita berapa pada satu sistem
jahiliyah. Kita hancur karena ada thaghut itu adalah dua hal dua hal yang
abstrak sehingga jika jawabannya seperti itu, lalu apa yang bisa dilakukan?kita
harus mengubah system! Tetapi, “siapa” system itu? System yang abstrak itu kita
pandang sebagai sesuatu yang konkret.
5. Argumentum ad
Verecundiam ialah berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu
tidak relevan atau ambigu. Ada beberapa orang yang menggunakan otoritas untuk
membela paham dan kepentingannya sendiri.dengan mengutuip suatu peristiwa dalam
sirah (perjalanan) Nabi, dia membenarkan paham dan kepentingannya sendiri. Padahal,
peristiwa yang dikutipkannya itu belum tentu relevan dengan masalah atau tema
yang sedang diperbincangkan.
6. Fallacy of
Composition adalah dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti
juga berhasil untuk semua orang. Sebagai contoh, di suatu kampung ada yang
memelihara ayam. Ayam petelur negeri itu berhasil mendatangkan uang banyak bagi
pemiliknya. Melihat itu, dengan serta-merta penduduk kampung menjual sawahnya
untuk dijadikan modal bisnis ayam petelur. Akibatnya, semua penduduk kampung
itu bangkrut lantaran merosotnya permintaan dan membanjirnya pasokan barang.
7. Circular Reasoning
artinya pemikiran yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung
asumsi yang digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semula. Misalnya perdebatan
tentang rendahnya prestasi intelektual umat Islam di Indonesia. Orang pertama
membuktikan konklusi tersebut dengan membandingkan persentase mahasiswa Islam
dan non-Islam pada program S2 dan S3. Haslnya, makin tinggi tingkat pendidikan,
makin menurun trend kehadiran orang Islam di dalamnya. Padahal, di tingkat
sekolah dasar, persentase sis Muslim adalah 95%. Kesimpulannya, umat Islam di
Indonesia menduduki posisi intelektual yang rendah. Lalu, orang kedua
menyatakan bahwa hal ini terjadi lantaran orang-orang Islam diperlakukan tidak
sederajat dengan orang-orang non Islam. Jadi, ada perlakuan diskriminatif
terhadap orang-orang Islam. Sampai-sampai , orang-orang Islam serng dicoret
dari program-program pendidikan tinggi. Orang pertama menjawab lagi, “orang Islam
itu dicoret karena orang meragukan kemampuann intelektualnya. “Dengan jawaban
ini, kita kembali pada pokok masalah. Akhirnya, perdebatan itu terus-menerus
berputar di sekitar itu.
referensi : rekayasa sosial - Jalaluddin Rakhmat
Label:
Logika & Filsafat
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)