Popular Posts
-
Suatu hal yang menarik ketika kita mengkaji, dengan dibentuknya beberapa komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantas...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
-
Karangan ini saya buat berdasarkan apa yang saya ketahui dan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan Fakultas Hukum Universitas ...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Apakah pelanggaran HAM berat diselesaikan oleh KKR ataukah pengadilan HAM? Apakah perkaranya tidak dapat lagi diajukan kepada penga...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Sabtu, 27 Juli 2013
Manakah yang lebih berpengaruh terhadap pribadi
mahasiswa?kuliah hanya sekedar kuliah ataukah dengan mendapatkan IP/IPK yang
tinggi ataukah kuliah dengan berorganisasi? Mungkin pertanyaan seperti “IP/IPK
tinggi ataukah memiliki organisasi mahasiswa” mana yang lebih berguna? menjadi
kegalauan untuk kalangan mahasiswa pada umumnya. Karena di satu sisi, umumnya
beberapa mahasiswa berpikir bahwa kalau memiliki organisasi itu justru membuat
kuliah kita terganggu atau tidak fokus atau mungkin saja takutnya larut dalam
keorganisasian. Yaitu IP/IPK tinggi tanpa bekal organisasi atau organisasi
tanpa bekal IP/IPK yang tinggi ?
Hidup memanglah pilihan. Dan mahasiswa adalah insan akademis, pencipta, pengabdi dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur. Dan yang menentukan nasib atau masa depan adalah diri kita sendiri utamanya seperti kita ini sebagai mahasiswa. Banyak hal yang harusnya dipertimbangkan dalam menghadapi realita seperti ini. Pada dasarnya, keduanya memiliki peran penting bagi kita ini (mahasiswa). Dapat dikatakan keduanya saling bergantung, mendukung dan melengkapi terhadap diri sendiri. Namun terlepas dari masalah ketergantungan, dukung-mendukung dan lengkap-melengkapi. Kita sebagai mahasiswa calon penentu masa hidup kita sendiri, haruslah mampu menentukan prioritas utama guna mencapai kualitas hidup di atas rata-rata atau masa depan yang baik dengan kata lain menggapai cita-cita. Pernyataan ini mungkinkah terdengar egois, mengapa kita hanya menentukan masa depan hidup kita sendiri tanpa memikirkan cara mengkualitaskan hidup Negara? utamanya Negara kita yang terkenal akan korupsinya (Indonesia) ! Saya kira terlalu jauh dan abstrak bila kita memikirkan cara peningkatan kualitas Negara Indonesia sedangkan masa depan kita sendiri belum terarah dan terstruktur dengan baik.
Lalu, mana yang harus diprioritaskan oleh mahasiswa untuk mencapai hidup berkualitas? IP/IPK tinggi sebagai prioritas utama? atau ilmu organisasilah yang harus didalami? Kebanyakan Mahasiswa pengejar nilai akan memilih memprioritaskan IPK tinggi, biasa dijadikan sebagai alat pamer level kepandaian seseorang. Tapi apalah arti "IP/IPK tinggi" jika diperoleh dengan segala bentuk kecurangan misalnya (Nyontek, plagiat, manipulasi dan dikarenakan akrab dengan dosen/tetangga dosen). Namun, tidak sedikit mahasiswa yang mengejar IP/IPK tinggi dengan menjunjung tinggi penguasaan dan penyerapan ilmu-ilmu dalam setiap mata kuliah yang diambilnya tanpa menggunakan cara instant. Jadi, tak seharusnya kita khawatir akan pencapaian nilai IP atau IPK bila ilmu sudah digenggam tangan. Dan tak dapat dipungkiri juga bahwa ketentuan IP/IPK tinggi adalah momok kegagalan sebagian mahasiswa untuk dapat berbicara (khususnya fakultas Hukum) atau membagi ilmu pengetahuan berdasarkan disiplin ilmunya.
Demikian juga dengan organisasi mahasiswa yang tak diragukan lagi sebagai salah satu penyebar efek-efek negatif terhadap mahasiswa. Disini kita akan dihadapkan dengan dua pilihan: "mengambil ilmu-ilmu yang ada di organisasi tersebut untuk pembentukan karakter?" atau "sekedar kuliah?" Apa sebenarnya makna dari pilihan kedua?
Biasanya kita akan mulai menyepelekan tugas utama sebagai mahasiswa. Dari sinilah kehancuran dan kebinasaan cita-cita. Kita biasa memulainya dari jarangnya hadir dalam kelas, kalaupun hadir mahasiswa akan terjangkit penyakit malas belajar atau pengaruh dosen yang karenanya membosankan cara mengajarnya. Nah, disinilah organisasi hadir untuk menjawab kegelisahan seperti itu, dalam artian bahwa di dalam suatu organisasi utamanya organisasi yang fokus di bidang pengkaderan atau aktif mengadakan kegiatan-kegiatan diskusi ataupun kajian yang membuat kita terbiasa untuk hal seperti itu. Dan menurut saya, kalau kuliah sekedar kuliah bagai taman yang indah untuk dilihat sekejap dan bila membandingkan atau melihat taman yang satunya dilengkapi bunga pastilah kita lebih senang melihat taman yang dilengkapi bunga itu. Jadi kulliah tanpa organisasi yah bagai taman tak berbunga. Dan orang-orang pada umumnya lahir dari sebuah organisasi walaupun sy sendiri masih mahasiswa tp setidaknya kita bisalah melihat realitasnya misalnya Jusuf Kalla, Amien Rais, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Mahadi Sinambela, Ferry Mursyidan Baldan, Hidayat Nur Wahid (Gusdur), Marwah Daud Ibrahim, Munir SH, Adyaksa Dault, Abdullah Hemahua, Yusril Ihza Mahendra, Syaifullah Yusuf, Bursah Jarnubi, Hamid Awwaluddin, Jimly Asshiddiqie, Anas Urbaningrum, dan masih banyak lagi. Dia menjadi tokoh besar dikarenakan pernah berorganisasi.
Satu hal yang terpenting dalam kasus ini adalah kembali kepada individu masing-masing. Apa tujuan akhir anda setelah sarjana? sebelumnya hanya sekedar kuliah atau bahkan kedua-duanya? Menurut saya :
- Jika anda merasa memiliki, tetapi merasa mampu berorganisasi, maka dalamilah ilmu organisasi sebagai bekal hidup bersosial.
- Tetapi jika anda merasa memiliki maka fokuslah pada penyerapan ilmu atau materi-materi kuliah untuk mencapai IPK Tinggi. Dan saya yakin ilmu yang diajarkan dari dosen tidak semuanya akan diberikan dan organisasi hadir menjawab itu maukah itu diskusi bersama senior ataukah teman organisasi dsb.
- Dan jika merasa bisa kedua-duanya, maka jalankan keduanya dengan serasi dan selaras tanpa menjatuhkan atau menyepelekan salah satu darinya.
Pada dasarnya, antara IPK tinggi
dengan organisasi mahasiswa memiliki keterkaitan dan ketergantungan. IP/IPK tinggi
tanpa diimbangi organisasi dan organisasi tanpa dibekali IP/IPK Tinggi akan
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil kerja kedepannya.saya yakin
akan hal itu :).
Mungkin pembaca mengatakan bahwa penulis terlalu banyak berkata-kata. Tapi dengan keterbatasan saya dan sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan setidaknya dengan berbagai pertimbangan seperti itu mudah-mudahan bisa mengantarkan kita kepada masa depan yang lebih cerah. Akhir kata saya mengatakan : Orang yang pernah berorganisasi hidupnya tak akan buta.
Label:
Motivasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar