Popular Posts
-
Suatu hal yang menarik ketika kita mengkaji, dengan dibentuknya beberapa komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantas...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
-
Karangan ini saya buat berdasarkan apa yang saya ketahui dan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan Fakultas Hukum Universitas ...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Apakah pelanggaran HAM berat diselesaikan oleh KKR ataukah pengadilan HAM? Apakah perkaranya tidak dapat lagi diajukan kepada penga...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Minggu, 14 Juli 2013
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia
modern? Ataukah manusia modern yang mengontrol teknologi itu sendiri di
kalangan masyarakat? Bagaimana maksudnya jika Teknologi dibandingkan Tuhan ?
Siapa kah yang lebih berkuasa Tuhan ataukah teknologi itu sendiri? Pertanyaan-
pertanyaan ini menjadi begitu penting sebagai sebuah rujukan yang akurat dalam
hal ini bahwa berkembangnya suatu peradaban mengindikasikan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.
Analisis sederhana yaitu berangkat
dari definisi teknologi itu sendiri yaitu metode ilmiah untuk mencapai tujuan
praktis atau ilmu pengetahuan terapan dalam artian bahwa teknologi adalah keseluruhan sarana untuk
menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup
manusia atau teknologi merupakan anak peradaban yang selalu bersaing dengan
kebudayaan dalam mengarahkan hidup manusia. Seperti yang kita ketahui bersama
bahwa teknologi (penciptaan manusia) saat ini yang berkuasa pada diri manusia
yang dimana manusia seringkali larut dalam teknologi, menggantungkan diri
kepadanya. Dan teknologi melampaui kemanusiaan. Nah, mungkin anda bertanya,
terus hubungannya dengan Tuhan apa?
Estetika, salah satu bidang ilmu filsafat yang
mempelajari sesuatu sebagai dimensi keindahan. Jika filsafat adalah ikhtiar memahami
bagaimana benda-benda berada bersama di dunia, maka teknologi juga adalah
kajian filsafat. Teknologi pada awalnya adalah usaha untuk memudahkan manusia.
Kemudahan dari teknologi menjadikan manusia lebih punya banyak waktu merenung
namun faktanya tidak seperti itu (pada umumnya) bahwasanya, hidup manusia mesti
bisa diperdalam dan diperkaya dalam hal ini waktu manusia tak sepenuhnya tersita
hanya untuk bertahan hidup dan realitasnya teknologi memungkinkan manusia
mengontrol semua hal, kecuali teknologi sendiri. Determinisme (konsekuensi
kejadian sebelumnya dan ada di luar kemauan)
teknologi sepertinya tak terhindarkan maksudnya harus selalu dilawan
bukan dengan phobia teknologi tapi dengan setia pada hidup. Yaaaah… berbahagialah
kita, punya teknologi meski karenanya kita harus berjuang menepis sihirnya dan
mutlak adanya teknologi memiliki daya
tarik yang membuat kita tidak sadar. Netralkah teknologi? Atau sejak awal memihak
hasrat berkuasa? Kini seakan-akan teknologi memiliki kehendak sendiri dan
manusia takluk terhadap teknologi.
Keyakinan akan teknologi seringkali berbanding
terbalik dengan keyakinan akan nalar padahal teknologi adalah turunan nalar,
memang dulu teknologi itu merupakan perwujudan hasrat untuk
menyempurnakan alam dan kini teknologi merupakan hasrat memperburuk alam.
Mengapa demikian? pada awalnya teknologi meniru alam seiring berjalannya waktu
alam meniru teknologi yang dimana tiruan itu melampaui aslinya maksudnya di
sini alam semakin terpuruk, kesadaran (diri) puas hanya sebatas di permukaan
saja. Contoh kecil: bagaimana bila listrik di rumah mati selama sebulan? atau
air di rumah tidak mengalir. Tentu saja tanpa peradaban dan teknologi, manusia berpotensi berada pada posisi terbelakang dan menggantungkan diri sepenuhnya terhadap teknologi, secara tidak
langsung ingatan kita terhadap kehidupan (perenungan manusia) ini semakin
menurun yang dimana suatu saat kita akan kembali kepada Sang Pencipta Yang Mutlak karena
dialah sebagai sebab Awal dan Akhir (sebab dari segala sebab) sehingga terkadang kita
melupakan hal itu. Kita Sebagai anak peradaban teknologi selalu membidik naluri
manusia untuk mendapatkan kenikmatan, menghindari ketakutan dan melemahkan
pikiran.
Melainkan sebagai Ciptaan-Nya yang selalu membidik naluri untuk menyembah kepada Tuhan kita kadang menyepelekan hal tersebut, karena nikmat atas teknologi itu sendiri sehingga berpatokan pada suatu objek (teknologi) bukan kepada subjek (manusia) terkait dengan toleransi terhadap sesama manusia terutama kepada Sang Pemilik dari segala yang dimiliki (Tuhan) dalam hal ini keberadaan manusia juga dapat dipahami sebagai bagian dari alam, tunduk pada hukum-hukum fisiknya dan tidak berdaya untuk mengubahnya (terbatas), tapi di sisi lain manusia mampu mengatasi kondisi-kondisi alaminya yg merupakan suatu kenyataan bahwa manusia tdk semestinya dikontrol sepenuhnya oleh teknologi dan memiliki kendali atas kapan dan dimana mereka dilahirkan serta meninggal.
Pada dasarnya manusia adalah binatang yg lemah …yaah mempunyai naluri yg lemah tetapi manusia memiliki kesadaran diri, daya khayal dan akal pikiran yang telah menambatkannya dalam situasi ganjil yaitu terasing dr alam semesta. Teknologi dalam penghayatan manusia modern menjadi sihir yang seakan-akan dapat mewujudkan apapun yang diinginkan dalam waktu sekejap. Manusia yang dicecoki dan diatur sedemikian rupa oleh aturannya sendiri ciptaannya sendiri itu. Lama kelamaan kehilangan rasa kemanusiaan dalam artian bahwa hanya tunduk patuh, mengikuti aturan. Akibatnya rasa kemanusiaannya kian menipis diakibatkan bercinta dengan teknologi menjadi hal umum saat ini, relasi yang menempatkan manusia sebagai hamba penurut apapun yang ditawarkan oleh teknologi dengan berbagai fiturnya.
Melainkan sebagai Ciptaan-Nya yang selalu membidik naluri untuk menyembah kepada Tuhan kita kadang menyepelekan hal tersebut, karena nikmat atas teknologi itu sendiri sehingga berpatokan pada suatu objek (teknologi) bukan kepada subjek (manusia) terkait dengan toleransi terhadap sesama manusia terutama kepada Sang Pemilik dari segala yang dimiliki (Tuhan) dalam hal ini keberadaan manusia juga dapat dipahami sebagai bagian dari alam, tunduk pada hukum-hukum fisiknya dan tidak berdaya untuk mengubahnya (terbatas), tapi di sisi lain manusia mampu mengatasi kondisi-kondisi alaminya yg merupakan suatu kenyataan bahwa manusia tdk semestinya dikontrol sepenuhnya oleh teknologi dan memiliki kendali atas kapan dan dimana mereka dilahirkan serta meninggal.
Pada dasarnya manusia adalah binatang yg lemah …yaah mempunyai naluri yg lemah tetapi manusia memiliki kesadaran diri, daya khayal dan akal pikiran yang telah menambatkannya dalam situasi ganjil yaitu terasing dr alam semesta. Teknologi dalam penghayatan manusia modern menjadi sihir yang seakan-akan dapat mewujudkan apapun yang diinginkan dalam waktu sekejap. Manusia yang dicecoki dan diatur sedemikian rupa oleh aturannya sendiri ciptaannya sendiri itu. Lama kelamaan kehilangan rasa kemanusiaan dalam artian bahwa hanya tunduk patuh, mengikuti aturan. Akibatnya rasa kemanusiaannya kian menipis diakibatkan bercinta dengan teknologi menjadi hal umum saat ini, relasi yang menempatkan manusia sebagai hamba penurut apapun yang ditawarkan oleh teknologi dengan berbagai fiturnya.
Label:
Logika & Filsafat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar