Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Kategori

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 September 2013

Siapakah tokoh yang paling berpengaruh di dunia ini? Mungkin apa yang ada di benak anda sama dengan apa yang saya paparkan. Mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Dia adalah satu pemimpin yang patut di contoh baik dari segi akhlak, kepemimpinan dan lain-lain yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, yaitu Nabi Muhammad SAW menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Nabi Muhammad SAW hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Madinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Nabi Muhammad SAW, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Nabi Muhammad SAW wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642. Tapi, penaklukan besar-besaran di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam. Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Sekarang, apakah pengaruh Nabi Muhammad SAW yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Nabi Muhammad SAW bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Nabi Muhammad SAW masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Nabi Muhammad SAW dalam Islam lebih besar dari pengaruh Nabi Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Nabi Muhammad SAW setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Nabi Isa) Nabi Muhammad SAW bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Nabi Muhammad SAW dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Nabi Muhammad SAW. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, menurut Michael H. Hart dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Nabi Muhammad SAW sehingga saya menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

Ya, Rasulullah…
Apalah arti hidup jika jiwa ini terbelah dua
Di setiap nafasku selalu mencium aroma dirimu bagaikan surga
Adakah ruang rindu, bagi hamba yg berlumur dosa
Disini aku ingat dirimu saja
Ya, Rasulullah…
Diri ini senyap tanpa jiwa kasih
Ruang hati ini gelap tanpa arah tuk melangkah
Terngiang suara ditelinga
Merdu membisikkan makna
Ya, Rasulullah...
Akhlakmu yang begitu sempurna
Bagai cahaya kemuliaan Al-Qur’an yang penuh makna
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Dan agungnya cintamu menyayangi sesama

Sabtu, 14 September 2013

              Gagasan mengenai proses pelepasan diri seorang perempuan dari pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju yang berkembang di Indonesia dan memandang perempuan dalam dunia simbolik laki-laki dengan melakukan kompromi sekaligus perlawanan. Yaitu melalui perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan muncul terutama pada novel La Barka (1975) dan aku supiyah istri hardhian (1998). Yang dimana menunjukkan bahwa perbedaan konsepsi antara perempuan dan laki-laki adalah fenomena feminis utama yang muncul dalam era politik orde baru selain dari fenomena feminis lain yang berkembang dan menjadi bagian kesadaran perempuan dalam sistem dunia budaya laki-laki yang berbagai bentuk fenomena cerita dalam novel karya pengarang wanita Indonesia.
               
            Di dalam novel la barka, perbedaan gender begitu jelas khususnya dalam ruang lingkup rumah tangga menjadi kesadaran yang mendalam. Kebebasan yang dijadikan tujuan seksual kembali menjadi sebuah cerita kehidupan yang modern diceritakan melalui tokoh Rina dan Monique. Dalam kutipannya tentang kesadaran wanita tentang adanya perbedaan seksual dalam peradaban modern :
Masyarakat telah memastikan bahwa dunia ini untuk pihak laki-laki. Yang terang, dunia modern yang kukenal dan laki-laki yang haus akan tubuh perempuan daripada sebaliknya. Seorang lelaki memiliki seribu kemungkinan untuk memuaskan diri. Mereka bisa pergi ke pelosok mana pun dan berkesempatan menemukan apa yang mereka butuhkan.
               
          Artinya bahwa, pahamilah posisi perempuan dalam sistem dunia laki-laki! Perspektif tentang seksualitas sering dipertanyakan secara eksistensial (keberadaan) dalam novel-novel karya pengarang wanita Indonesia. Kesadaran perempuan memunculkan semacam solidaritas gender, sebagaimana yang diceritakan melalui tokoh Rina dan Monique dalam menilai suami mereka sebagai representasi laki-laki. Perempuan menyadari adanya substansi perbedaan yang dijustifikasi dalam kehidupan sosial, dimana laki-laki tidak pernah secara penuh dapat menerima kehadiran perempuan sebagai subjek yang setara dalam kehidupan keluarga maupun sosial.
               
            Secara jelas ditegaskan bahwa adanya perbedaan gender dalam lingkungan sosial itu membuat munculnya kesamaan psikologis antara perempuan yang dilakukan melalui tokoh Rani dari Timur, tokoh Monique dan Francine dari Barat. Dalam novel la barka ditegaskan bahwa dalam situasi kehidupan yang modern, masalah yang dihadapi perempuan baik di Timur maupun Barat adalah tekanan psikologis atas adanya diferensiasi (perbedaan) gender, baik dari segi kebebasan yang tidak memiliki batasan yaitu hubungan-hubungan laki-laki dengan wanita. Situasi psikologis tersebut, membuat seorang perempuan lebih dapat menjalin hubungan dengan baik antar sesama perempuan lebih tepatnya kepada kerabatnya daripada dengan laki-laki yang hanya menggunakan ego (kenikmatan), terjadi secara berlebihan “menurut Sigmund freud”meskipun laki-laki itu adalah suaminya.
               
            Di sisi lain, tindakan perempuan selalu mempunyai tanggung jawab besar terhadap rumah tangga mereka yaitu dilema feminis tersebut, ditegaskan bahwa bentuk lain dari perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebab hal yang sama tidak menjadi sebuah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Bahkan perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, disadari oleh perempuan sebagai sesuatu yang menjadi perbedaan gender secara psikologis. Pembedaan diri tersebut, ditegaskan melalui percakapan antara Francine dan Monique :
“kesepian seorang laki-laki lain dari kesepian kita, perempuan,” katanya menambahkan. “kita dapat menahan sampai histeris pun kalau memang benar-benar kita menghendakinya. Seorang laki-laki lain halnya. Apalagi Jean yang belum atau tidak berkeluarga artinya tidak mempunyai tanggung jawab kewajiban rohaniah terhadap seorang perempuan.
              
            Di dalam novel aku supiyah istri hardhian bahwa masalah pendidikan tidaklah menjadi masalah besar yang ditunjukkan dalam novel-novel karya pengarang wanita Indonesia, masih pada substansi perbedaan antara dunia laki-laki dan perempuan yang tidak terselesaikan hanya dengan kesetaraan pendidikan. Dan mencoba mengungkapkan sisi lain yang tidak terselesaikan dalam persoalan perempuan yang memang berbeda dengan laki-laki. Ketegangan antara Supiyah dan Hardian adalah salah satu aspek kesadaran feminis yang mencoba mengurai secara tegas bahwa pendidikan belum mampu membawa banyak perempuan di Indonesia keluar dari perbedaan dengan laki-laki. Terdapat 3 konsep perbedaan gender antara perempuan dan laki-laki dalam novel aku supiyah istri hardhian : pertama, perempuan masih menggambarkan perasaan sementara laki-laki kuat dan tegar menghadapi perpisahan. Kedua, dalam relasi perasaan, perempuan lebih mengutamakan perasaan cinta sementara laki-laki lebih pada nafsu. Ketiga, kebebasan dipandang sebagai persoalan yang lebih mengikat perempuan daripada laki-laki.
               
            Pelajaran yang dapat diambil dari cerita di atas yaitu terkhusus kepada kaum muslim yang menyadari hakikat dari kehidupannya, akan senantiasa menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang menjerumuskan diri. Hawa nafsu adalah istilah keislaman yang digunakan dalam Al-qur'an dan Sunnah. Yang dimana menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman. Seringnya ditemukan kata hawa nafsu dalam Al-qur'an dan Sunnah. Antara lain, Allah swt berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al-Furqon 43).

Dan firman Allah swt: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41)

Begitupun dengan seorang sahabat Rasulullah SAW pernah berkata: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan angan-angan panjang”.
Minggu, 08 September 2013

               Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan  sesuatu dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di tangan Allah s.w.t.
               
              Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orang tua itu akan tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.
               
              Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a ? dimana beliau dilahirkan di rumah Abu Thalib atau di tempat lain? Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., Al Hakim dalam buku “Al Mustadrak”, jilid III, halaman 483, antara lain mengemukakan : ketika itu hari jum’at 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad s.a.w mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya Nampak besar sekali, bersama suaminya melakukan tawaf keliling Ka’bah. Wanita yang bernama Fatimah itu tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng istrinya masuk ke dalam Ka’bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Di harapkan dengan beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.
             
             Kenyataannya tidak seperti  yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh yaitu Sitti Fatimah R.A putrid kesayangan Rasulullah s.a.w, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan tawafnya.
               
            Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah mulas. Di saat itu yang teringat di hati Fatimah adalah bahwa rasa sakitnya akan berkurang dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayup tersengal-sengal berucap; “Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim pendiri rumah ini. Maka demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada dalam perutku, aku mohon kepada-Mu untuk dimudahkan kelahirannya. Beberapa saat kemudian saat seusai mengucapkan do’a, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra ke-empat dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita melahirkan puteranya dalam Ka’Bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya saja. Kejadian luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka’bah, guna menyaksikan bayi yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke rumah Abu Thalib.
               
             Meskipun bayi ini merupakan putera ke empat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia besar yang dilimpahkan Allah s.w.t kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalibini tercermin dri perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna memeriahkan pesta itu, beberapa ekor anak dipotong. Pemuka-pemuka Quraisy diundang mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama “Ali” kepada puteranya yang baru lahir. “Ali” berarti “luhur”.

Referensi : “Imam Ali bin Abi Thalib r.a”, H.M.H. Al Hamid Al Husaini

Selasa, 13 Agustus 2013

                Terkadang kita mengeluarkan kata seperti : setan atau iblis. Apakah setan dan iblis itu berbeda atau sama? Dimana letak perbedaannya? Lantas, bagaimana pandangan Al-Qur’an mengenai setan dan iblis? Siapa-siapa saja yang termasuk golongan setan di dunia ini?  Berbicara masalah waktu, apakah setan dipenjara/dikurung selama bulan puasa?
                Setan dan iblis mempunyai arti yang berbeda. Menurut pandangan Al-Qur’an , itu diberlakukan kepada kekuatan-kekuatan yang menciptakan penyimpangan, kejahatan dan penyelewengan. Berdasarkan ini, kita temukan dalam Al Qur’an yaitu “ setan-setan diantara golongan manusia dan jin” dalam artian bahwa manusia-manusia ada yang mengenakan pakaian, berbuat dan berjalan sesuai dengan dengan sifat setan itu sendiri, serta setan-setan yang dari jenis jin. Dan setan-setan terkadang berada di dalam diri manusia (yaitu sifat egoisme, hasrat rendah, ketamakan, kemarahan, kealpaan dan sebagainya. Dan kadang pula berada di luar manusia (aksiden) misalnya seperti  yang menduduki sebagai jabatan, pemimpin agama(ulama), penguasa, penjahat keras kepala, busuk, kejadian yang merangsang birahi dan lain-lain. Dan pada saat bulan ramadhan mungkin ada makhluk berwujud manusia tapi perlakuan atau tindakannya seperti setan.
                Sekarang, seandainya kita tidak memanjakan setan dalam diri kita sebagai manusia biasa, maka setan-setan di luar tidak akan bisa mempengaruhi diri kita. Karena alasan tersebut tidak bisa kita mempersalahkan penyimpangan kita sendiri pada kondisi –kondisi sosial atau mereka yang menggiring kita pada kealpaan. Di dalam al-qur’an sendiri disebutkan ada pertengkaran antara kaum mustakbirin dan kaum tertindas pada hari keputusan. Kaum tertindas menuduh golongan kaum mustakbirin telah menyesatkan mereka tetapi pihak kedua membantah dan menyangga bahwa mereka sendiri semestinya tidak mendengarkan mereka.  Mereka berdua sama-sama mengatakan kebenaran dan pada waktu yang sama, kedua-duanya dijatuhi hukuman.
                Sedangkan jin berasal dari jana yaitu terhalang atau tak terlihat. Sedangkan Ifrit merupakan salah satu jenis dari golongan jin yang memiliki kekuatan besar serta dia memiliki kemampuan untuk membunuh manusia. Dalam tafsir surat An-Nas, Qatadah berkata : “Sesungguhnya dari jin dan manusia terdapat setan-setan”. Dalam surah Al-An’am (112) dikatakan “”Dan demikian lah Aku jadikan untuk setiap nabi musuh dari setan-setan manusia dan jin”. Dalam buku “Hayatul Hayawan al-Kubra” karangan Dumairi : semua jin adalah keturunan Iblis. Namun dikatakan juga bahwa Jin merupakan satu rumpun, sedangkan Iblis adalah satu dari mereka. Jin juga mempunyai keturunan,seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Kahf (55) “Apakah kalian akan menjadikan mereka (jin) dan keturunanya sebagai kekasih selain Aku (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian”. Mereka yang kafir dari kaum jin disebut setan. Semua yang durhaka dan membangkang dari manusia, jin dan hewan disebut setan. Orang Arab menyebut ular sebagai setan. Yang terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa setan adalah musuh mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan Allah. Kita dilarang menyembah atau menuruti kata setan.  Dalam surah Yasin (60) dikatakan “Bukankah Aku (Allah) telah membuat perjanjian kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak menyembah setan, mereka adalah musuh yang paling jelas”. Demikian juga dalam surah Fathir (6) “Sesungguhnya setan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka musuh”. Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap tipu daya dan rayuan setan ini.

Senin, 29 Juli 2013


      Apakah kita hidup di dunia ataukah kita diciptakan di muka bumi ini dengan tujuan atau perspektif kita terhadap diri kita bahwa diri ini budak?atau pedagang?ataukah pecinta? Kapankah kita bisa mengambil tolak ukur bahwa kita ini budak, pedagang ataukah pecinta di dalam beragama? Kenapa manusia dalam cara beribadahnya dibagi menjadi 3 kategori? Seperti apa itu budak, pedagang dan pecinta?mari kita simak !

      Hidup memang tidaklah terlepas dari pilihan dan tidak terlepas diantara-Nya. Merujuk kepada data-data teologis bahwa kesempurnaan yang hakiki, mutlak dan tidak terbatas adalah Tuhan (QS. 22:64). Dialah Zat yang Maha Esa, Maha Kaya, dan Pemurah wujud kepada makhluk-Nya (QS. 35:15) Dialah Rabbiul ‘alamin. Maha Pengatur, Maha Pemelihara, Pemilik Mutlak, Penguasa dan Pemerintah Mutlak. Maka, perjumpaan dengan Tuhan adalah kesempurnaan terbesar manusia (QS. 53:42 – QS. 84:6). Berdasarkan subjektifitas manusia, bahwa manusia cenderung mencintai diri sendiri (merawat) karena mencintai diri sendiri adalah naluri induk bagi kecenderungan dan tendensi batin lainnya.  Naluri ini tidak pernah puas dengan nikmat keterbatasannya  (QS. 70:19-21). Tuntunannya semakin menjadi 7 maksudnya adalah hingga menembus langit-langit keterbatasan (bukan 7 langit yang kita konsepsikan menjadi 7 di alam khayal kita). Dan perjumpaan menuju kesempurnaan itu tidak lain adalah kepuasaan terbesar bagi naluri cinta terhadap diri sendiri.

     Ditegaskan bahwa iman itu berderajat atau mempunyai tingkatan. Derajat minimal iman adalah menerima kepuasan kalbu bahwa “La ilaha illallah” tidak ada Tuhan selain Allah adalah kalimat Tauhid yang mencakup keyakinan kita terhadap Tuhan sebagai Rabbiul alamin. Imam Ali, mengumpamakan orang pertama itu budak dan orang kedua itu dengan pedagang serta yang ketiga dengan pecinta. Inilah tangga-tangga iman, yaitu makna takut, harap dan cinta :
1.       Seseorang yg mengimani Tuhan dan menganggap bahwa manusia(ciptaan-Nya) itu budak dan akan menundukkan diri di hadapan-Nya dengan motivasi takut dari segala takut dan khawatir dari segala khawatir atau dengan kata lain ibadah (shalat, puasa, zakat, dll) adalah perintah-Nya.
2.       Seseorang yang mengimani Tuhan dan menganggap bahwa segala perlakuan atau wujud peribadatan kita (mengharapkan) surga dan takut neraka-Nya. Nilai keimanannya jelas berbeda dari nomor 1. Sesuai dengan lagunya chrisye ft. ahmad dhani “jika surga dan neraka tak pernah ada?masihkah kau bersujud kepada-Nya?”
3.       Seseorang yang mengimani Tuhan dan menganggap bahwa segala segala bentuk perlakuan atau ibadahku adalah kecintaan terhadap sang Pencipta yaitu tidak lagi memikirkan siksa atau pahala, surga dan neraka. Dan nilai keimanannya tentu berbeda dengan nomor 1 dan 2. Dan sesuai pula dengan lagunya dewa (satu) “aku ini adalah diri-MU, jiwa ini adalah jiwa-Mu, tak ada yang lain selain diri-Mu Yang selalu kupuja”.

      Mungkin anda masih mempertanyakan, kenapa seperti itu?maksudnya apa? Tentulah kita ini mau menjadi pecinta bagi Sang Pemilik Cinta ini karena hanya Dialah yang pantas untuk dicinta (objektif). Dan kecintaan terhadap sesama manusia itu (subjektif). Bukan berarti ibadah itu bukan perintah-Nya , dan bukan berarti ketika kita melakukan ibadah terhadap-Nya tidak mendapatkan surga akan tetapi itu adalah konsekuensi kita terhadap Sang Pencipta karena Tuhan tidak butuh lagi apapun karena Dia Maha Segala-Nya dan Sempurna. Jadi wujud peribadatan kita yaitu bentuk pengucapan terima kasih terhadap Sang Pencipta dalam artian bahwa kita bersyukur atas Nikmat-Nya. Sekali lagi kita ini bukan budak baginya karena ketika Tuhan mempunyai budak berarti ada sesuatu yang dilakukannya itu butuh yang lain (kerajaan) sementara Tuhan adalah Maha Segala-Nya dan Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya dikarenakan kecintaannya, contoh kecil : anda membaca ini tulisan apakah ini kemauan Tuhan ataukah kemauan anda sendiri? tentu karena diri sendiri berarti Tuhan tidak pernah memperbudak kita karena Tuhan Maha Penyayang bukan berarti ada yang terlepas darinya tapi itu adalah pilihan anda dan sudah ketentuan Tuhan ketika anda membuka website (aturannya).

      Manakah tindakan yang mendekatkan kita terhadap-Nya? Tidak ragu lagi bahwa akal dengan tegas menunjukkan atau menimbang tindakan yang bernilai baik yaitu bentuk kerja sama terhadap diri yang dibantu oleh indera (5 alat) pada manusia karena akal adalah pencapaian kesempurnaan manusia dan menjadi beda terhadap binatang dan untuk menemukan tindakan yang benar-benar baik yang mengarahkan manusia kepada tujuannya. Akal tidak untuk menebarkan perselisihan-perselisihan dari hasilnya kalaupun sampai tataran hawa nafsu tentulah kita tidak dapat dikatakan manusia. Apa bedanya dengan binatang? Satu hal yang perlu kita tahu bahwa empiris dan akal manusia itu terbatas (terlalu lemah) untuk menyelidiki atau menganalisis sesuatu yaitu seluruh efek material dan ma’nawi itu serta dampak duniawi dan ukhrawi, individual dan sosial bagi seluruh kehidupan kita ini dari seluruh tindakan sengaja. Dalam mengatasi kekurangan dan keterbatasannya,  akal membutuhkan uluran tangan Dzat Yang Maha Tahu, Maha Adil dan Maha Bijaksana. Aantum a’lamu amillah. ‘kalian lebih tahu ataukah kami?’ di sini agama hadir di tengah kehidupan kita. Agama bukanlah lawan dari akal tapi akal hadir sebagai pelengkap dalam agama (menganalisis sesuatu). Dan barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhan!

Kamis, 25 Juli 2013
sa lalu (orang-orang terdahulu) ataukah puasa itu merupakan sebuah ibadah?  Ataukah puasa dijalankan dikarenakan ikut-ikutan karena pengaruh dari orang lain? Mungkin kita berpuasa karena berharap adanya pahala atau sebaliknya karena takut berdosa. Dalam bahasa yang lebih tegas, sebagian dari kita berpuasa karena takut pada ancaman neraka?  Apakah puasa hanya diperuntukkan hanya kepada orang yang menganut agama Islam? Kenapa kita harus berpuasa? Mengapa kita harus puasa dan untuk siapa kita berpuasa? Ada berapa puasa berdasarkan aspek tinjauannya? Mari kita lihat.
                Puasa dalam berbagai derivasinya, disebut 13 kali dlm al-qur'an; tetapi kata 'shaum' hanya disebut satu kali: 'shaum' disitu berbeda sama sekali dengan 'shiam', yg merujuk pada puasa seperti yg lazim kita lakukan. Dalam bahas sufistik, 'shaum' mengacu pada tarekat. Satu-satunya kata 'shaum' dalam al qur'an berkaitan dengan kisah seorang perempuan suci yg melahirkan Nabi Isa as., yaitu maryam. Setelah mengalirkan sungai di bawah kaki Maryam dan menjatuhkan kurma yg surga, Tuhan berkata kpd Maryam, yg mengalami rasa sakit krn akan melahirkan anak : "maka makan, minum, dan tenangkan hatimu. Jika kamu berjumpa dengan manusia, katakan saja :  "aku sudah berjanji kpd Tuhan Yang Mahakasih untuk melaksanakan shaum. Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam:26)
Adapun secara terminologi (istilah), puasa berasal dari kata ‘shawn’ (bahasa India) adalah menahan sesuatu pada waktu tertentu oleh orang tertentu dari perkara-perkara spesifik yang disertai dengan niat. Puasa mempunyai beberapa aspek dalam tinjauannya, yaitu agama, kaum filosof dan sufi, aspek kemanusiaan (humanis).
1.  Puasa dalam tinjauan agama ada 2 yaitu agama samawi (langit) seperti Yahudi, Nasrani dan Islam . Jadi, puasa bukan pula diperuntukkan hanya kepada umat Islam seperti Yahudi pun melakukan puasa. Para pakar perbandingan agama mendapatkan data bahwa sebelum mengenal agama Samawi, orang-orang Mesir kuno, orang-orang Yunani dan Romawi telah mengenal  puasa. Demikian juga dengan orang-orang Majusi, Budha, Yahudi dan Kristen. Dalam karyanya "al-Fahrasat" Ibnu Nadim menyebutkan bahwa orang-orang Majusi berpuasa tiga puluh hari dalam setahun. Mereka juga melakukan puasa-puasa sunnah yang ditujukan sebagai penghormatan kepada bulan, Mars dan Matahari. Sementara At-Thabari dalam tafsirnya, Jami` al-Bayan, menyebutkan bahwa  seluruh pemeluk agama samawi (ahli kitab) diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa.
2.   Puasa dalam tinjauan kaum filsuf (ahli filsafat) dan sufi  (ahli ilmu tasawuf). bahwa , puasa menurut filsuf yaitu meniru Tuhan misalnya seperti tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan seks . Dan puasa menurut sufi yaitu puasa berbicara, puasa mendengar dan puasa melihat maksudnya disini bahwa bukan berarti tidak bebicara sama sekali, tidak mendengar sama sekali sesuatu ataupun sengaja menutup telinga dengan pakai headset, penutup telinga ataupun  tidak melihat sama sekali maksudnya adalah para sufi tidak melakukan pembicaraan yang tidak penting (gosip), menjauhi pendengaran-pendengaran hal-hal yang berbau keburukan org lain dan tidak melihat hal-hal yang berbau negatif.


3. Puasa dalam tinjauan aspek kemanusiaan (humanis):
 Misalnya Sigmund Freud dengan teori psikoanalisisnya tentang tahap-tahap kepribadian      individu yaitu :
-          Tahap oral : dimulai dari semenjak lahirnya seorang anak yang menguyah sesuatu yang dia pegang.
-          Tahap anal : umur 1-3 tahun yaitu seorang balita mulai mengenal alat produksinya atau biasa disebut alat kemaluan.
-          Tahap phalic : umur 3-5 tahun yaitu seorang anak mulai mengenal atau melihat sesuatu yang lain dari dirinya misalnya seorang anak yang berjenis kelamin laki-laki sering kepada ibunya untuk digendong dan seorang anak perempuan mulai atau lebih sering kepada ayahnya.
-          Tahap genital : seorang anak dalam masa pubertas (matang) atau pada umumnya berumur 17 tahun  dalam artian bahwa manusia sudah dianggap dewasa dalam tahap ini. Ketika manusia belum bisa sampai kepada tahap genital walaupun sudah mendapatkan masa pubertas tapi belum dapat mengendalikan diri terhadap alat produksinya  maka itu disebut dengan fiksasi (perasaan terikat atau terpusat pd sesuatu secara berlebihan).

Abraham maslow dengan teori piramidanya yaitu :
                                                                                         Source : google
1. Kebutuhan biologis, contohnya:  makanan,        minuman, pakaian, bernafas dll
2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan, contohnya: bebas dari penjajahan, bebas   dari ancaman dll.
3. Kebutuhan sosial,  misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan penghargaan, misalnya : pujian, piagam, tanda jasa dll.
5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri yaitu :
o    Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.
o    Memusatkan diri pada masalah, yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
o   Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
Untuk apa dan siapa kita berpuasa (beribadah)? Kita berpuasa bertujuan untuk pengendalian diri dan untuk diri sendiri bukanlah karena siapa-siapa ataupun bukan karena Tuhan karena Tuhan tidak membutuhkan sesuatu lagi apalagi sebagai seorang manusia . Jadi berpuasalah karena mencintai diri sendiri bukan karena mau masuk surga, takut pada neraka, atau menganggap diri sebagai budak dari Tuhan karena ketika Tuhan memiliki budak berarti Tuhan bukanlah segalanya karena Tuhan mempunyai perantara untuk melakukan terhadap sesuatu dan Tuhan dikatakan Tuhan ketika dia tidak membutuhkan sesuatu karena Dia Maha Segala-Nya. Walaupun melakukan perintahnya adalah konsekuensi atau akibat dari ibadah yang kita lakukan dan surga pun adalah konsekuensi dari pahala yang kita dapatkan tapi kita sebaiknya berharap bukanlah sampai pada tataran itu, semoga kita menjadi pecinta kepada-Nya karena cinta bukanlah menghitung konsep rugi dan untung terhadap sesuatu. 
Maka, cintailah apa yang dicintai Sang Pemilik Cinta. Dan Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang terus meningkatkan kesuciannya setelah Ramadhan, minimal mempertahankan apa yg telah disucikan.