Popular Posts
-
Apa itu Negara dan apa unsur-unsur Negara? Apakah Negara itu perlu bagi suatu wilayah? Darimanakah asal mula Negara itu ada?...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Berbicara mengenai konsep kekinian, tentu manusia tidak terlepas dari apa yang dibutuhkan atau yang dinginkannya yaitu belajar. Apa...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Apakah Indonesia adalah Negara hukum atau politik? Lantas, yang manakah yang menjadi sebab terciptanya sesuatu, apakah ...
-
Manakah yang lebih berpengaruh terhadap pribadi mahasiswa?kuliah hanya sekedar kuliah ataukah dengan mendapatkan IP/IPK yang tinggi at...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 September 2013
Siapakah tokoh yang paling berpengaruh
di dunia ini? Mungkin apa yang ada di benak anda sama dengan apa yang saya
paparkan. Mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya
sebagian yang lain. Dia adalah satu pemimpin yang patut di contoh baik dari
segi akhlak, kepemimpinan dan lain-lain yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.
Berasal-usul dari keluarga
sederhana, yaitu Nabi Muhammad SAW menegakkan dan menyebarkan salah satu dari
agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil
sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad
sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari
orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena
lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan
tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Nabi Muhammad SAW lahir pada tahun 570
M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang
waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat
perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam
tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati.
Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW seorang buta huruf.
Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia
kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat
puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu
tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada
sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan
dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan
Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia 40 tahun, Nabi
Muhammad SAW yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya
dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Nabi Muhammad
SAW hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru
tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit
demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang
berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Nabi Muhammad
SAW hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia
ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan
titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah
kecil pengikut, dan di Madinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo
cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang
kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut
Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah
dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Nabi
Muhammad SAW, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari
hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab
memeluk Agama Islam. Dan tatkala Nabi Muhammad SAW wafat tahun 632, dia sudah
memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian
selatan.
Suku Bedewi punya tradisi
turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah
mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak
satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari
kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi,
Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan
kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan
penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab
berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri
Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan
ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan
pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat
menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut
dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia
dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di
Nehavend tahun 642. Tapi, penaklukan besar-besaran di bawah pimpinan sahabat
Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab itu tidak menunjukkan
tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu
habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok
ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di
Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti
mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun
732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin
yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang
Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang
Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW telah mendirikan
sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai
Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah
manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu
disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam. Ternyata, tidak
semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun
masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan
Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya
berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia
dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab
seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar
terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya
jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan
dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru
itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya:
adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Sekarang, apakah pengaruh Nabi
Muhammad SAW yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti
halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap
para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia
semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk
Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan
sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih
tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok
yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting
dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani.
Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika
Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama
teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian
Lama.
Sebaliknya Nabi Muhammad SAW
bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga
terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat"
Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang diyakininya
berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan
penuh kesungguhan selama Nabi Muhammad SAW masih hidup dan kemudian dihimpun
dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan
demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta
ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada
satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih
dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit
banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Nabi Muhammad SAW
dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Nabi Muhammad
SAW dalam Islam lebih besar dari pengaruh Nabi Isa dan St. Paul dalam dunia
Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya
pengaruh Nabi Muhammad SAW setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda
dengan Nabi Isa) Nabi Muhammad SAW bukan semata pemimpin agama tapi juga
pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak
penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada
dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang
bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang
yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja
bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah
ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang
dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Nabi Muhammad SAW dan
tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil
tanpa Nabi Muhammad SAW. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam
sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis
Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang
dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini
satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama
dengan sebelum masa Jengis Khan.
Ini jelas menunjukkan beda
besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak
hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat
anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan
kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya
dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak
terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi
sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam
beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi
perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa
bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang
kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak
ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974.
Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara
Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, menurut Michael H. Hart
dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling
Berpengaruh dalam Sejarah” dapatlah kita saksikan, penaklukan yang
dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam
sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi
tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh
diri Nabi Muhammad SAW sehingga saya menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW dalam
arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Ya,
Rasulullah…
Apalah arti hidup jika jiwa ini terbelah dua
Di setiap nafasku selalu mencium aroma dirimu
bagaikan surga
Adakah ruang rindu, bagi hamba yg berlumur dosa
Disini aku ingat dirimu saja
Ya,
Rasulullah…
Diri ini senyap tanpa jiwa kasih
Ruang hati ini gelap tanpa arah tuk melangkah
Terngiang suara ditelinga
Merdu membisikkan makna
Ya, Rasulullah...
Akhlakmu yang begitu sempurna
Bagai cahaya kemuliaan Al-Qur’an yang penuh
makna
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Dan agungnya cintamu menyayangi sesama
Label:
Agama
|
0
komentar
Sabtu, 14 September 2013
Gagasan mengenai proses pelepasan diri seorang perempuan dari pengekangan hukum yg
membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju yang berkembang di
Indonesia dan memandang perempuan dalam dunia simbolik laki-laki dengan melakukan
kompromi sekaligus perlawanan. Yaitu melalui perbedaan karakter antara
laki-laki dan perempuan muncul terutama pada novel La Barka (1975) dan aku supiyah
istri hardhian (1998). Yang dimana menunjukkan bahwa perbedaan konsepsi
antara perempuan dan laki-laki adalah fenomena feminis utama yang muncul dalam
era politik orde baru selain dari fenomena feminis lain yang berkembang dan menjadi
bagian kesadaran perempuan dalam sistem dunia budaya laki-laki yang berbagai
bentuk fenomena cerita dalam novel karya pengarang wanita Indonesia.
Di dalam
novel la barka, perbedaan gender begitu
jelas khususnya dalam ruang lingkup rumah tangga menjadi kesadaran yang
mendalam. Kebebasan yang dijadikan tujuan seksual kembali menjadi sebuah cerita
kehidupan yang modern diceritakan melalui tokoh Rina dan Monique. Dalam kutipannya
tentang kesadaran wanita tentang adanya perbedaan seksual dalam peradaban
modern :
Masyarakat telah
memastikan bahwa dunia ini untuk pihak laki-laki. Yang terang, dunia modern
yang kukenal dan laki-laki yang haus akan tubuh perempuan daripada sebaliknya. Seorang
lelaki memiliki seribu kemungkinan untuk memuaskan diri. Mereka bisa pergi ke
pelosok mana pun dan berkesempatan menemukan apa yang mereka butuhkan.
Artinya
bahwa, pahamilah posisi perempuan dalam sistem dunia laki-laki! Perspektif
tentang seksualitas sering dipertanyakan secara eksistensial (keberadaan) dalam
novel-novel karya pengarang wanita Indonesia. Kesadaran perempuan memunculkan
semacam solidaritas gender, sebagaimana yang diceritakan melalui tokoh Rina dan
Monique dalam menilai suami mereka sebagai representasi laki-laki. Perempuan menyadari
adanya substansi perbedaan yang dijustifikasi dalam kehidupan sosial, dimana
laki-laki tidak pernah secara penuh dapat menerima kehadiran perempuan sebagai
subjek yang setara dalam kehidupan keluarga maupun sosial.
Secara jelas ditegaskan bahwa
adanya perbedaan gender dalam lingkungan sosial itu membuat munculnya kesamaan
psikologis antara perempuan yang dilakukan melalui tokoh Rani dari Timur, tokoh
Monique dan Francine dari Barat. Dalam novel la barka ditegaskan bahwa dalam situasi kehidupan yang modern,
masalah yang dihadapi perempuan baik di Timur maupun Barat adalah tekanan
psikologis atas adanya diferensiasi (perbedaan) gender, baik dari segi
kebebasan yang tidak memiliki batasan yaitu hubungan-hubungan laki-laki dengan
wanita. Situasi psikologis tersebut, membuat seorang perempuan lebih dapat
menjalin hubungan dengan baik antar sesama perempuan lebih tepatnya kepada
kerabatnya daripada dengan laki-laki yang hanya menggunakan ego (kenikmatan),
terjadi secara berlebihan “menurut Sigmund freud”meskipun laki-laki itu adalah
suaminya.
Di sisi
lain, tindakan perempuan selalu mempunyai tanggung jawab besar terhadap rumah
tangga mereka yaitu dilema feminis tersebut, ditegaskan bahwa bentuk lain dari
perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebab hal yang sama tidak menjadi
sebuah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua
kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan. Bahkan perbedaan
psikologis antara laki-laki dan perempuan, disadari oleh perempuan sebagai
sesuatu yang menjadi perbedaan gender secara psikologis. Pembedaan diri
tersebut, ditegaskan melalui percakapan antara Francine dan Monique :
“kesepian seorang
laki-laki lain dari kesepian kita, perempuan,” katanya menambahkan. “kita
dapat menahan sampai histeris pun kalau memang benar-benar kita menghendakinya.
Seorang laki-laki lain halnya. Apalagi Jean yang belum atau tidak berkeluarga
artinya tidak mempunyai tanggung jawab kewajiban rohaniah terhadap seorang
perempuan.
Di dalam
novel aku supiyah istri hardhian bahwa
masalah pendidikan tidaklah menjadi masalah besar yang ditunjukkan dalam
novel-novel karya pengarang wanita Indonesia, masih pada substansi perbedaan antara
dunia laki-laki dan perempuan yang tidak terselesaikan hanya dengan kesetaraan
pendidikan. Dan mencoba mengungkapkan sisi lain yang tidak terselesaikan dalam
persoalan perempuan yang memang berbeda dengan laki-laki. Ketegangan antara
Supiyah dan Hardian adalah salah satu aspek kesadaran feminis yang mencoba mengurai
secara tegas bahwa pendidikan belum mampu membawa
banyak perempuan di Indonesia keluar dari perbedaan dengan laki-laki. Terdapat 3
konsep perbedaan gender antara perempuan dan laki-laki dalam novel aku supiyah istri hardhian : pertama,
perempuan masih menggambarkan perasaan sementara laki-laki kuat dan tegar
menghadapi perpisahan. Kedua, dalam relasi perasaan, perempuan lebih
mengutamakan perasaan cinta sementara laki-laki lebih pada nafsu. Ketiga,
kebebasan dipandang sebagai persoalan yang lebih mengikat perempuan daripada
laki-laki.
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita di atas yaitu terkhusus
kepada kaum muslim yang menyadari hakikat dari kehidupannya, akan senantiasa
menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang menjerumuskan diri. Hawa nafsu adalah
istilah keislaman yang digunakan dalam Al-qur'an dan Sunnah. Yang dimana menjadi
istilah dengan arti khas budaya keislaman. Seringnya ditemukan kata hawa nafsu
dalam Al-qur'an dan Sunnah. Antara lain, Allah swt berfirman: “Terangkanlah
kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, maka
apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al-Furqon 43).
Dan firman Allah swt: “Dan adapun orang-orang yang takut
kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41)
Begitupun dengan seorang sahabat Rasulullah SAW pernah berkata: “Sesungguhnya
yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan
angan-angan panjang”.
Label:
Agama
|
0
komentar
Minggu, 08 September 2013
Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia
dapat merencanakan sesuatu dan berusaha
mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai atau
gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir
di tangan Allah s.w.t.
Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orang tua itu akan tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.
Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a ? dimana beliau dilahirkan di rumah Abu Thalib atau di tempat lain? Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., Al Hakim dalam buku “Al Mustadrak”, jilid III, halaman 483, antara lain mengemukakan : ketika itu hari jum’at 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi Muhammad s.a.w mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya Nampak besar sekali, bersama suaminya melakukan tawaf keliling Ka’bah. Wanita yang bernama Fatimah itu tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng istrinya masuk ke dalam Ka’bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Di harapkan dengan beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.
Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit. Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh yaitu Sitti Fatimah R.A putrid kesayangan Rasulullah s.a.w, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan tawafnya.
Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah mulas. Di saat itu yang teringat di hati Fatimah adalah bahwa rasa sakitnya akan berkurang dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayup tersengal-sengal berucap; “Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim pendiri rumah ini. Maka demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada dalam perutku, aku mohon kepada-Mu untuk dimudahkan kelahirannya. Beberapa saat kemudian saat seusai mengucapkan do’a, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra ke-empat dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita melahirkan puteranya dalam Ka’Bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya saja. Kejadian luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondong-bondonglah mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka’bah, guna menyaksikan bayi yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke rumah Abu Thalib.
Meskipun bayi ini merupakan putera ke empat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia besar yang dilimpahkan Allah s.w.t kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalibini tercermin dri perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna memeriahkan pesta itu, beberapa ekor anak dipotong. Pemuka-pemuka Quraisy diundang mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama “Ali” kepada puteranya yang baru lahir. “Ali” berarti “luhur”.
Referensi :
“Imam Ali bin Abi Thalib r.a”, H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Label:
Agama
|
0
komentar
Selasa, 13 Agustus 2013
Terkadang
kita mengeluarkan kata seperti : setan atau iblis. Apakah setan dan iblis itu
berbeda atau sama? Dimana letak perbedaannya? Lantas, bagaimana pandangan
Al-Qur’an mengenai setan dan iblis? Siapa-siapa saja yang termasuk golongan
setan di dunia ini? Berbicara masalah
waktu, apakah setan dipenjara/dikurung selama bulan puasa?
Setan
dan iblis mempunyai arti yang berbeda. Menurut pandangan Al-Qur’an , itu
diberlakukan kepada kekuatan-kekuatan yang menciptakan penyimpangan, kejahatan
dan penyelewengan. Berdasarkan ini, kita temukan dalam Al Qur’an yaitu “
setan-setan diantara golongan manusia dan jin” dalam artian bahwa
manusia-manusia ada yang mengenakan pakaian, berbuat dan berjalan sesuai dengan
dengan sifat setan itu sendiri, serta setan-setan yang dari jenis jin. Dan
setan-setan terkadang berada di dalam diri manusia (yaitu sifat egoisme, hasrat
rendah, ketamakan, kemarahan, kealpaan dan sebagainya. Dan kadang pula berada
di luar manusia (aksiden) misalnya seperti
yang menduduki sebagai jabatan, pemimpin agama(ulama), penguasa,
penjahat keras kepala, busuk, kejadian yang merangsang birahi dan lain-lain.
Dan pada saat bulan ramadhan mungkin ada makhluk berwujud manusia tapi
perlakuan atau tindakannya seperti setan.
Sekarang,
seandainya kita tidak memanjakan setan dalam diri kita sebagai manusia biasa,
maka setan-setan di luar tidak akan bisa mempengaruhi diri kita. Karena alasan
tersebut tidak bisa kita mempersalahkan penyimpangan kita sendiri pada kondisi
–kondisi sosial atau mereka yang menggiring kita pada kealpaan. Di dalam
al-qur’an sendiri disebutkan ada pertengkaran antara kaum mustakbirin dan kaum
tertindas pada hari keputusan. Kaum tertindas menuduh golongan kaum mustakbirin
telah menyesatkan mereka tetapi pihak kedua membantah dan menyangga bahwa
mereka sendiri semestinya tidak mendengarkan mereka. Mereka berdua sama-sama mengatakan kebenaran
dan pada waktu yang sama, kedua-duanya dijatuhi hukuman.
Sedangkan
jin berasal dari jana yaitu terhalang atau tak terlihat. Sedangkan Ifrit
merupakan salah satu jenis dari golongan jin yang memiliki kekuatan besar serta
dia memiliki kemampuan untuk membunuh manusia. Dalam tafsir surat An-Nas,
Qatadah berkata : “Sesungguhnya dari jin dan manusia terdapat setan-setan”.
Dalam surah Al-An’am (112) dikatakan “”Dan demikian lah Aku jadikan untuk
setiap nabi musuh dari setan-setan manusia dan jin”. Dalam buku “Hayatul
Hayawan al-Kubra” karangan Dumairi : semua jin adalah keturunan Iblis. Namun
dikatakan juga bahwa Jin merupakan satu rumpun, sedangkan Iblis adalah satu
dari mereka. Jin juga mempunyai keturunan,seperti dijelaskan dalam al-Qur’an
surah al-Kahf (55) “Apakah kalian akan menjadikan mereka (jin) dan keturunanya
sebagai kekasih selain Aku (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian”. Mereka
yang kafir dari kaum jin disebut setan. Semua yang durhaka dan membangkang dari
manusia, jin dan hewan disebut setan. Orang Arab menyebut ular sebagai setan.
Yang terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa setan adalah musuh
mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan
Allah. Kita dilarang menyembah atau menuruti kata setan. Dalam surah Yasin (60) dikatakan “Bukankah
Aku (Allah) telah membuat perjanjian kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak
menyembah setan, mereka adalah musuh yang paling jelas”. Demikian juga dalam
surah Fathir (6) “Sesungguhnya setan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka
musuh”. Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap
tipu daya dan rayuan setan ini.
Label:
Agama
|
0
komentar
Senin, 29 Juli 2013
Apakah
kita hidup di dunia ataukah kita diciptakan di muka bumi ini dengan tujuan atau
perspektif kita terhadap diri kita bahwa diri ini budak?atau pedagang?ataukah
pecinta? Kapankah kita bisa mengambil tolak ukur bahwa kita ini budak, pedagang
ataukah pecinta di dalam beragama? Kenapa manusia dalam cara beribadahnya
dibagi menjadi 3 kategori? Seperti apa itu budak, pedagang dan pecinta?mari
kita simak !
Hidup memang tidaklah terlepas dari
pilihan dan tidak terlepas diantara-Nya. Merujuk kepada data-data teologis
bahwa kesempurnaan yang hakiki, mutlak dan tidak terbatas adalah Tuhan (QS.
22:64). Dialah Zat yang Maha Esa, Maha Kaya, dan Pemurah wujud kepada
makhluk-Nya (QS. 35:15) Dialah Rabbiul ‘alamin. Maha Pengatur, Maha Pemelihara,
Pemilik Mutlak, Penguasa dan Pemerintah Mutlak. Maka, perjumpaan dengan Tuhan
adalah kesempurnaan terbesar manusia (QS. 53:42 – QS. 84:6). Berdasarkan
subjektifitas manusia, bahwa manusia cenderung mencintai diri sendiri (merawat)
karena mencintai diri sendiri adalah naluri induk bagi kecenderungan dan
tendensi batin lainnya. Naluri ini tidak
pernah puas dengan nikmat keterbatasannya
(QS. 70:19-21). Tuntunannya semakin menjadi 7 maksudnya adalah hingga
menembus langit-langit keterbatasan (bukan 7 langit yang kita konsepsikan
menjadi 7 di alam khayal kita). Dan perjumpaan menuju kesempurnaan itu tidak
lain adalah kepuasaan terbesar bagi naluri cinta terhadap diri sendiri.
Ditegaskan bahwa iman itu
berderajat atau mempunyai tingkatan. Derajat minimal iman adalah menerima
kepuasan kalbu bahwa “La ilaha illallah” tidak ada Tuhan selain Allah adalah
kalimat Tauhid yang mencakup keyakinan kita terhadap Tuhan sebagai Rabbiul
alamin. Imam Ali, mengumpamakan orang pertama itu budak dan orang kedua itu
dengan pedagang serta yang ketiga dengan pecinta. Inilah tangga-tangga iman,
yaitu makna takut, harap dan cinta :
1.
Seseorang yg mengimani Tuhan dan menganggap
bahwa manusia(ciptaan-Nya) itu budak dan akan menundukkan diri di hadapan-Nya
dengan motivasi takut dari segala takut dan khawatir dari segala khawatir atau
dengan kata lain ibadah (shalat, puasa, zakat, dll) adalah perintah-Nya.
2.
Seseorang yang mengimani Tuhan dan menganggap
bahwa segala perlakuan atau wujud peribadatan kita (mengharapkan) surga dan takut
neraka-Nya. Nilai keimanannya jelas berbeda dari nomor 1. Sesuai dengan lagunya
chrisye ft. ahmad dhani “jika surga dan neraka tak pernah ada?masihkah kau
bersujud kepada-Nya?”
3.
Seseorang yang mengimani Tuhan dan menganggap
bahwa segala segala bentuk perlakuan atau ibadahku adalah kecintaan terhadap
sang Pencipta yaitu tidak lagi memikirkan siksa atau pahala, surga dan neraka.
Dan nilai keimanannya tentu berbeda dengan nomor 1 dan 2. Dan sesuai pula
dengan lagunya dewa (satu) “aku ini adalah diri-MU, jiwa ini adalah jiwa-Mu,
tak ada yang lain selain diri-Mu Yang selalu kupuja”.
Mungkin anda
masih mempertanyakan, kenapa seperti itu?maksudnya apa? Tentulah kita ini mau
menjadi pecinta bagi Sang Pemilik Cinta ini karena hanya Dialah yang pantas
untuk dicinta (objektif). Dan kecintaan terhadap sesama manusia itu
(subjektif). Bukan berarti ibadah itu bukan perintah-Nya , dan bukan berarti
ketika kita melakukan ibadah terhadap-Nya tidak mendapatkan surga akan tetapi
itu adalah konsekuensi kita terhadap Sang Pencipta karena Tuhan tidak butuh
lagi apapun karena Dia Maha Segala-Nya dan Sempurna. Jadi wujud peribadatan
kita yaitu bentuk pengucapan terima kasih terhadap Sang Pencipta dalam artian
bahwa kita bersyukur atas Nikmat-Nya. Sekali lagi kita ini bukan budak baginya
karena ketika Tuhan mempunyai budak berarti ada sesuatu yang dilakukannya itu
butuh yang lain (kerajaan) sementara Tuhan adalah Maha Segala-Nya dan Tuhan
menciptakan alam semesta beserta isinya dikarenakan kecintaannya, contoh kecil
: anda membaca ini tulisan apakah ini kemauan Tuhan ataukah kemauan anda
sendiri? tentu karena diri sendiri berarti Tuhan tidak pernah memperbudak kita
karena Tuhan Maha Penyayang bukan berarti ada yang terlepas darinya tapi itu
adalah pilihan anda dan sudah ketentuan Tuhan ketika anda membuka website
(aturannya).
Manakah tindakan yang mendekatkan
kita terhadap-Nya? Tidak ragu lagi bahwa akal
dengan tegas menunjukkan atau menimbang tindakan yang bernilai baik yaitu
bentuk kerja sama terhadap diri yang dibantu oleh indera (5 alat) pada manusia
karena akal adalah pencapaian kesempurnaan manusia dan menjadi beda terhadap
binatang dan untuk menemukan tindakan yang benar-benar baik yang mengarahkan
manusia kepada tujuannya. Akal tidak untuk menebarkan perselisihan-perselisihan
dari hasilnya kalaupun sampai tataran hawa nafsu tentulah kita tidak dapat
dikatakan manusia. Apa bedanya dengan binatang? Satu hal yang perlu kita tahu
bahwa empiris dan akal manusia itu terbatas (terlalu lemah) untuk menyelidiki
atau menganalisis sesuatu yaitu seluruh efek material dan ma’nawi itu serta
dampak duniawi dan ukhrawi, individual dan sosial bagi seluruh kehidupan kita
ini dari seluruh tindakan sengaja. Dalam mengatasi kekurangan dan
keterbatasannya, akal membutuhkan uluran
tangan Dzat Yang Maha Tahu, Maha Adil dan Maha Bijaksana. Aantum a’lamu
amillah. ‘kalian lebih tahu ataukah kami?’ di sini agama hadir di tengah
kehidupan kita. Agama bukanlah lawan dari akal tapi akal hadir sebagai
pelengkap dalam agama (menganalisis sesuatu). Dan barangsiapa yang mengenal
dirinya maka dia akan mengenal Tuhan!
Label:
Agama
|
0
komentar
Kamis, 25 Juli 2013
sa lalu (orang-orang
terdahulu) ataukah puasa itu merupakan sebuah ibadah? Ataukah puasa dijalankan dikarenakan
ikut-ikutan karena pengaruh dari orang lain? Mungkin kita berpuasa karena
berharap adanya pahala atau sebaliknya karena takut berdosa. Dalam bahasa yang
lebih tegas, sebagian dari kita berpuasa karena takut pada ancaman neraka? Apakah puasa hanya diperuntukkan hanya kepada
orang yang menganut agama Islam? Kenapa kita harus berpuasa? Mengapa kita harus
puasa dan untuk siapa kita berpuasa? Ada berapa puasa berdasarkan aspek
tinjauannya? Mari kita lihat.
Puasa dalam berbagai derivasinya, disebut 13 kali dlm al-qur'an; tetapi kata 'shaum' hanya disebut satu kali: 'shaum' disitu berbeda sama sekali dengan 'shiam', yg merujuk pada puasa seperti yg lazim kita lakukan. Dalam bahas sufistik, 'shaum' mengacu pada tarekat. Satu-satunya kata 'shaum' dalam al qur'an berkaitan dengan kisah seorang perempuan suci yg melahirkan Nabi Isa as., yaitu maryam. Setelah mengalirkan sungai di bawah kaki Maryam dan menjatuhkan kurma yg surga, Tuhan berkata kpd Maryam, yg mengalami rasa sakit krn akan melahirkan anak : "maka makan, minum, dan tenangkan hatimu. Jika
kamu berjumpa dengan manusia, katakan saja : "aku sudah berjanji kpd Tuhan Yang Mahakasih untuk melaksanakan shaum. Aku tidak akan berbicara
dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam:26)
Adapun secara terminologi
(istilah), puasa berasal dari kata ‘shawn’ (bahasa India) adalah menahan
sesuatu pada waktu tertentu oleh orang tertentu dari perkara-perkara spesifik
yang disertai dengan niat. Puasa mempunyai beberapa aspek dalam tinjauannya,
yaitu agama, kaum filosof dan sufi, aspek kemanusiaan (humanis).
1. Puasa dalam tinjauan agama ada 2 yaitu
agama samawi (langit) seperti Yahudi, Nasrani dan Islam . Jadi, puasa bukan
pula diperuntukkan hanya kepada umat Islam seperti Yahudi pun melakukan puasa. Para
pakar perbandingan agama mendapatkan data bahwa sebelum mengenal agama Samawi,
orang-orang Mesir kuno, orang-orang Yunani dan Romawi telah mengenal puasa. Demikian juga dengan orang-orang
Majusi, Budha, Yahudi dan Kristen. Dalam karyanya "al-Fahrasat" Ibnu
Nadim menyebutkan bahwa orang-orang Majusi berpuasa tiga puluh hari dalam
setahun. Mereka juga melakukan puasa-puasa sunnah yang ditujukan sebagai
penghormatan kepada bulan, Mars dan Matahari. Sementara At-Thabari dalam
tafsirnya, Jami` al-Bayan, menyebutkan bahwa
seluruh pemeluk agama samawi (ahli kitab) diwajibkan oleh Allah untuk
melaksanakan puasa.
2. Puasa dalam tinjauan kaum filsuf (ahli
filsafat) dan sufi (ahli ilmu tasawuf).
bahwa , puasa menurut filsuf yaitu meniru Tuhan misalnya seperti tidak makan,
tidak minum dan tidak melakukan seks . Dan puasa menurut sufi yaitu puasa berbicara,
puasa mendengar dan puasa melihat maksudnya disini bahwa bukan berarti tidak
bebicara sama sekali, tidak mendengar sama sekali sesuatu ataupun sengaja
menutup telinga dengan pakai headset, penutup telinga ataupun tidak melihat sama sekali maksudnya adalah para
sufi tidak melakukan pembicaraan yang tidak penting (gosip), menjauhi pendengaran-pendengaran
hal-hal yang berbau keburukan org lain dan tidak melihat hal-hal yang berbau negatif.
3. Puasa dalam tinjauan aspek kemanusiaan
(humanis):
Misalnya Sigmund
Freud dengan teori psikoanalisisnya tentang tahap-tahap kepribadian individu
yaitu :
-
Tahap oral : dimulai dari semenjak lahirnya
seorang anak yang menguyah sesuatu yang dia pegang.
-
Tahap anal : umur 1-3 tahun yaitu seorang balita
mulai mengenal alat produksinya atau biasa disebut alat kemaluan.
-
Tahap phalic : umur 3-5 tahun yaitu seorang anak
mulai mengenal atau melihat sesuatu yang lain dari dirinya misalnya seorang
anak yang berjenis kelamin laki-laki sering kepada ibunya untuk digendong dan
seorang anak perempuan mulai atau lebih sering kepada ayahnya.
-
Tahap genital : seorang anak dalam masa pubertas
(matang) atau pada umumnya berumur 17 tahun dalam artian bahwa manusia sudah dianggap
dewasa dalam tahap ini. Ketika manusia belum bisa sampai kepada tahap genital walaupun
sudah mendapatkan masa pubertas tapi belum dapat mengendalikan diri terhadap
alat produksinya maka itu disebut dengan
fiksasi (perasaan terikat atau terpusat pd sesuatu secara berlebihan).
Abraham maslow dengan teori
piramidanya yaitu :
1. Kebutuhan biologis,
contohnya: makanan, minuman, pakaian, bernafas
dll
2. Kebutuhan keamanan dan
keselamatan, contohnya: bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman dll.
3. Kebutuhan sosial, misalnya adalah : memiliki teman, memiliki
keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan penghargaan, misalnya : pujian, piagam, tanda
jasa dll.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri yaitu :
o
Memusatkan diri pada realitas (reality-centered),
yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih,
bebas dari bias.
o
Memusatkan diri pada masalah, yakni melihat
persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
o Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami,
mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
Untuk apa dan siapa kita berpuasa
(beribadah)? Kita berpuasa bertujuan untuk pengendalian diri dan untuk diri
sendiri bukanlah karena siapa-siapa ataupun bukan karena Tuhan karena Tuhan
tidak membutuhkan sesuatu lagi apalagi sebagai seorang manusia . Jadi
berpuasalah karena mencintai diri sendiri bukan karena mau masuk surga, takut
pada neraka, atau menganggap diri sebagai budak dari Tuhan karena ketika Tuhan
memiliki budak berarti Tuhan bukanlah segalanya karena Tuhan mempunyai
perantara untuk melakukan terhadap sesuatu dan Tuhan dikatakan Tuhan ketika dia
tidak membutuhkan sesuatu karena Dia Maha Segala-Nya. Walaupun melakukan
perintahnya adalah konsekuensi atau akibat dari ibadah yang kita lakukan dan surga
pun adalah konsekuensi dari pahala yang kita dapatkan tapi kita sebaiknya
berharap bukanlah sampai pada tataran itu, semoga kita menjadi pecinta kepada-Nya
karena cinta bukanlah menghitung konsep rugi dan untung terhadap sesuatu.
Maka, cintailah apa yang dicintai Sang Pemilik Cinta. Dan Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang terus meningkatkan kesuciannya setelah Ramadhan, minimal mempertahankan apa yg telah disucikan.
Label:
Agama
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)


