Popular Posts
-
Suatu hal yang menarik ketika kita mengkaji, dengan dibentuknya beberapa komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantas...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Karangan ini saya buat berdasarkan apa yang saya ketahui dan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan Fakultas Hukum Universitas ...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Apakah pelanggaran HAM berat diselesaikan oleh KKR ataukah pengadilan HAM? Apakah perkaranya tidak dapat lagi diajukan kepada penga...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Rabu, 26 Maret 2014
Sesuatu yang sesungguhnya adalah
ketika sesuatu itu bertemu dengan kemusnahan kecuali Sang Pencipta Sesuatu
(Maha Pencipta mengakibatkan Diri-Nya menjadi Maha Kekal). Hari-hari yang telah
manusia lewati yang pada hakikatnya adalah ketika kegelapan itu suatu saat akan
bertemu dengan ke-terang-an , ketika malam dan siang itu bertemu, hujan dan
panas itu bertemu dalam sehari dan laki2 dan perempuan (semua diciptakan berpasang-pasangan).
Adakah manusia yang sebagai ciptaan akan mengatakan bahwa bumi dan seisinya ini
tidak seimbang?
Satu hal yang sangat tidak asing
lagi pada daun telinga manusia ketika mendengar suatu kalimat yang menyatakan
bahwa “TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA”, yang dimana pada realitasnya mungkin
manusia itu berbicara kepada diri sendiri (merenung) ataukah berinteraksi
dengan manusia lainnya. Kalau asumsinya seperti yang manusia katakan tadi, maka
tidak ada satupun manusia yang pernah, sekarang atau akan hidup di muka bumi
ini terlahir sebagai manusia sempurna. Berarti konklusinya adalah tidak ada
yang menjadi standar/tolak ukur manusia sempurna dan hanya Tuhan yang Sempurna
karena Dia Maha Sempurna.
Kekeliruan itulah yang manusia
konsepsikan di dalam pikirannya sebagaimana dalam teori dialektika hegel (ide
mempengaruhi materi), sehingga terjadi sebuah pergeseran paradigma terhadap
diri sendiri dan sekitarnya. Ketika paradigma bergeser maka konsekuensinya
adalah tingkah laku manusia pun akan bergeser dikarenakan tidak ada manusia
yang sempurna dan tidak ada tolak ukur manusia yang sempurna yang kemudian
dengan sebuah kesimpulan bahwa manusia itu hidup tidak memiliki tujuan.
1. Akankah manusia hidup tanpa tujuan?
2. Akankah suatu ciptaan (manusia) tidak memiliki tolak ukur?
3. Akankah manusia itu stagnan dalam bertingkah laku/mengkritik/gosip
untuk sebuah pembenaran terhadap hakikat manusia?
Manusia
yang menulis pun tentu memiliki tujuan dan sebab-akibat sehingga mengapa dia
menulis. Yang dimana penulis tersebut lahir dari kedua orang tua dan pasangan
manusia yang pertama kali adalah Nabi Adam As dan Hawa yang sebagai ciptaan
dari Sang Sebab Awal (Tuhan). Dan salah satu tujuannya adalah membagi ilmu
pengetahuan karena semua Milik-Nya dan ciptaan-Nya dan dikarenakan ilmu
pengetahuan mempunyai sumbangsih terhadap peradaban manusia. Kalaupun Tuhan
menciptakan manusia itu tanpa tujuan berarti ada suatu hal yang gugur Dari-Nya
bahwa Dia bukan segalanya, Dia tidak bijaksana. Apakah Tuhan masih disebut
Tuhan ketika dia tidak bijaksana? Tentu tidak.
Ketika
manusia itu telah diciptakan memiliki tujuan dan karena Tuhan Maha Penyayang
maka sebagai konsekuensi logis adalah Tuhan menunjuk/memilih seorang manusia
sebagai tolak ukur terhadap manusia lainnya (keturunan) yaitu Nabi Muhammad
SAW. Karena dia tidak pernah salah maka dia disebut sebagai manusia sempurna.
Kalaupun dia pernah salah berarti Tuhan telah menunjuk/memilih manusia yang
salah sebagai contoh. Akankah Tuhan melakukan penunjukan yang salah?
Jawabannya; mustahil. Namun, apakah kemudian kita tidak dapat mencontohi Nabi
Muhammad? Mungkin jawabannya “Nabi dan manusia itu berbeda”. Apakah Nabi itu
bukan manusia? Dan ketika dia sebagai manusia sempurna akankah manusia yang
lainnya tidak akan sempurna? Nabi secara fisik disebut sebagai manusia, tapi
secara pengetahuan dan jiwa tentu berbeda, tetapi bukan berarti manusia lainnya
tidak dapat mengikutinya. Karena Nabi Muhammad hadir untuk menjawab tantangan
zaman. Namun, apakah dengan hadirnya Nabi Muhammad sebagai teladan, manusia
yang lainnya tidak dapat melakukan perubahan dalam diri yang akan mempengaruhi
di sekitarnya? Secara logis jawabannya adalah potensial.
Frasa
potensial tidak dapat ditafsirkan atau disamakan dengan stagnan/tidak mungkin.
Pada hakikatnya berbicara potensial tentu akan mengarah kepada sesuatu yang
berkembang jika dikembangkan dan menurun jika tidak dikembangkan. Jadi, manusia
itu secarap otensial dapat menjadi sempurna dan juga secara potensial dapat
menjadi semakin tidak sempurna berdasarkan tingkatan kesempurnaan. Dan fitrah
manusia, pada hakikatnya adalah mencari
kebenaran untuk menuju kesempurnaan.
Label:
Logika & Filsafat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
menarik. Kunjungi juga http://www.triwardanamokoagow.blogspot.com/2013/09/manusia-mahluk-2-dimensi.html dan http://www.triwardanamokoagow.blogspot.com/2013/11/filsafat-kenabian_8.html
Posting Komentar