Popular Posts
-
Suatu hal yang menarik ketika kita mengkaji, dengan dibentuknya beberapa komisi-komisi negara seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantas...
-
Ketika Wortley, mengemukakan bahwa : “ Jurisprudence is the knowledge of law in its various forms and manifestations ” ...
-
Karangan ini saya buat berdasarkan apa yang saya ketahui dan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan Fakultas Hukum Universitas ...
-
Perbincangan mahasiswa, kehidupannya bukan hadir sebagai sebuah kebekuan, potensinya hadir bukan untuk dibekukan. Ya, bia...
-
Untuk memahami apa itu filsafat, mari kita lihat pendapat-pendapat para ahli tentang pengertian filsafat : 1. Plato (427 SM...
-
Apakah pelanggaran HAM berat diselesaikan oleh KKR ataukah pengadilan HAM? Apakah perkaranya tidak dapat lagi diajukan kepada penga...
-
lanjutan dari tulisan ; PENGADILAN HAM dan KOMISI KEBENARAN DAN REKONSOLIASI Pembentukan KKR di berbagai Negara, me...
-
Pembahasan mengenai Marx dan Marxisme selalu muncul di sebuah media, diskusi-diskusi dan lain sebagainya bahkan dalam buku-b...
-
Kenapa saya mengemukakan hal ini?Apa maksudnya? Apakah teknologi sudah menjadi ketergantungan bagi manusia modern? Ataukah manu...
-
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berfikir?mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
Kategori
- Agama ( 6 )
- Hukum & Sosial ( 13 )
- Logika & Filsafat ( 10 )
- Motivasi ( 5 )
- Puisi ( 2 )
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Jumat, 03 Juni 2016
Hidup yang terpahami adalah kematian yang
sesungguhnya, dan kematian yang terpahami adalah awal dari langkah untuk
memulai kehidupan. Cahaya yang terpahami akan mengantarkan diri bahwa pemahaman
diri yang begitu gelap menuju kesenantiasaan butuh terhadap cahaya untuk
melangkah, laksana tumbuhan yang membutuhkan cahaya matahari untuk dapat
bertahan.
Aku memulai kehidupan dengan melihat kebiasaan orang
banyak, lalu aku menikmatinya dengan rasa bangga karena apa yang kulakukan
adalah hal yang lazim bagi semua orang. Kebanggaan senantiasa membawa diri
untuk terus mencari sesuatu yang lain. Ternyata
sesuatu yang dicari, didapatkan lalu dinikmati hanya singgah pada singgasana
ruang yang tak bertepi. Layaknya seperti hidangan makanan yang kenikmatannya hanya
di tenggorokan lalu pergi untuk dicerna.
Ciptaan ada karena pencipta itu eksis, itulah alasan mengapa
setiap ciptaan butuh kepada pencipta untuk hidup, hanya saja ada yang belum
merasakan kenikmatan bersandar kepada yang pantas. Ruang demi ruang ku
telusuri, kata orang “ jadilah diri sendiri” ternyata menjadi diri sendiri itu
adalah menemukan jati diri yang sesungguhnya.
Jalan kemanusiaan selalu memiliki alternatif yang
progresif untuk dikontemplasikan bagi mereka yang intensif merajut realitas. Menulis,
mungkin sebuah hal yang hampir tak pernah
ada dalam pahaman seorang untuk menjadi seorang penulis. Menulis bukan seperti
pengusaha yang hanya mencari keuntungan, bukan seperti presiden yang terpilih
melalui pemilu, bukan seperti hakim yang menganalisis fenomena sosial. Tapi menulis
adalah hal yang begitu indah, melampaui batas fenomena yang ada, tidak mencari
jabatan dan tidak mencari keuntungan. Karena menulis tertuang di atas kertas,
mengaktualisasikan pemikiran dan menceritakan ide kepada manusia melalui
tulisan. Bukankah realitas ide adalah tulisan? Bukankah lisan terbatas kepada
ruang dan waktu untuk memberi? Bukankah warisan yang kekal adalah tulisan dari
generasi ke generasi?
Karena itu saya haturkan rasa syukur kepada Sang
Pencipta memberi cahaya melalui perantara yang Dia Kehendaki, kepada manusia
suci (teladan) memberi dan mempertahankan warisan risalah Iahi, kepada seorang
ulama memberi penafsiran terhadap ayat-ayat suci, kepada seorang guru memberi khazanah
pengetahuan kepada muridnya dan kepada teman kerabat memberi ruang diskusi dan
pemahaman kritis untuk menjaga harmonisasi alam semesta. Buku di bawah ini
(hukum sebagai persepsi) adalah karya pertama dan persembahanku kepada mereka yang
terlibat dalam kehidupanku dan akan kulibatkan diriku bagi mereka yang belum
terlibat:
Pengantar buku ini, di tulisan selanjutnya digambarkan dalam
blog ini :
“Hukum sebagai persepsi”
Label:
Motivasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar